Utang Dulu demi Latihan, Francis Ngannou Mengaku Tertarik Jadi Petinju

by
Utang Dulu demi Latihan, Francis Ngannou Mengaku Tertarik Jadi Petinju thumbnail

JUARA.NET – Akibat utang untuk kamp latihan, Francis Ngannou mengaku tertarik pada bayaran yang diperoleh di dunia tinju ketimbang UFC.

Raja baru kelas berat, Francis Ngannou, akan bersiap mempertahankan sabuk juara yang dipegangnya pada UFC 270 di bulan Januari nanti.

Akan tetapi, bayaran yang akan diperoleh Francis Ngannou di UFC 270 dipastikan lebih sedikit ketimbang yang diterima oleh petinju-petinju profesional.

Melalui wawancara di MMA Hour, Francis Ngannou ditanya apakah dia tidak senang bahwa orang-orang seperti Tyson Fury dan Deontay Wilder mampu memperoleh bayaran lebih besar dibandingkan dirinya.

Francis Ngannou mengatakan bahwa MMA lebih sulit ketimbang apa yang dilakukan oelh petinju.

Pasalnya untuk melakukan latihan di MMA, Francis Ngannou harus meminjam uang terlebih dahulu untuk membayar biaya kamp pelatihan.

Akibat permasalahan tersebut, Francis Ngannou mengaku tertarik untuk menjajal dunia tinju mengingat keuntungan yang bisa dihasilkan.

Baca Juga: Hadapi Monster UFC yang Pintar, Begini Wanti-wanti Pelatih Mike Tyson untuk Francis Ngannou

“MMA lebih sulit ketimbang tinju. Saya rasa tidak perlu meminjam uang terlebih dahulu untuk biaya kamp pelatihan kalau saya bertinju,” kata Francis Ngannou dikutip Juara.procure dari BJPenn.com.

“Pada beberapa poin, saya akan mengejar uang yang dihasilkan. Saya akan menjajal dunia tinju pastinya. Saya tidak menentang sistemnya, saya hanya mengutarakan hak.”

Menurut Sportsdaily.com, Ngannou telah mengumpulkan kekayaan sebesar 2.737.500 juta dolar AS (setara Rp 38 miliar) sepanjang kariernya termasuk 58.000 dolar AS (Rp818,9 juta) untuk kemenangannya atas Stipe Miocic di UFC 260.

Sementara itu, sesuai dengan keputusan Komisi Atletik Negara Bagian Nevada, Fury dan Wilder dijamin mendapatkan keuntungan sebesar 5 juta dolar AS (setara Rp70,5 miliar) ditambah keuntungan dari PPV.

Setelah semuanya diperhitungkan dengan ditambah pendapatan dari sponsor, diperkirakan Tyson Fury menerima 30 juta dolar AS (setara Rp423 miliar) dan Deontay Wilder mendapatkan 20 juta dolar AS (setara Rp282 miliar).

Sangat mudah untuk melihat Ngannou tertarik bertanding di atas ring tinju dan bukan hanya karena masalah uangnya.

Keputusan UFC memilih menggelar duel perebutan sabuk period in-between antara Derrick Lewis dan Ciryl Gane di UFC 265 membuat Ngannou merasa tidak dihormati.

“Dari apa yang saya lihat, UFC mencoba mendiskreditkan saya. Itu yang saya tahu dan mereka yang mempromosikan seseorang tidak boleh  mendiskreditkannya,” kata Ngannou.

Baca Juga: Demi Kalahkan Francis Ngannou, Ciryl Gane Bakal Tiru Tyson Fury

“Anda tidak melakukan itu pada seseorang yang ingin Anda promosikan.”

“Apa yang ingin saya cari? Pertama-tama, saya ingin mendapatkan beberapa rasa hormat, itu sebagai permulaan.”

“Kemudian saya ingin mendapatkan beberapa hal dengan benar, saya ingin terlihat seperti dihormati, merasa mereka setidaknya terlihat peduli.”

“Itu saja. Saya tidak pernah meminta lebih dari itu. Hal itu sudah cukup bagi saya,  mendapatkan posisi saya sekarang.”

“Saya tidak dinominasikan, saya tidak ditugaskan berada di sini, saya mendapatkannya sendiri. Jadi pencapaian itu punya arti.”

“Saya berhak mendapatkan sedikit rasa hormat. Saya bukan masalah besar, hanya sedikit ingin lebih terkenal,” pungkas Ngannou.

Jika berhasil mengalahkan Ciryl Gane, mungkin Francis Ngannou akan mendapatkan rasa hormat yang dia inginkan dari UFC.

Pasalnya, Gane bukan sosok lawan yang mudah untuk Ngannou mengingat sang rival memiliki rekor sempurna selama berkarier di MMA, yakni 10 kemenangan tanpa pernah terkalahkan.

Baca Juga: Dari Sales Mebel Jadi Monster Kelas Berat UFC, Begini Perjalanan Karier Ciryl Gane



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *