Sejarah Revolusi Indonesia, Sosialisme Pernah Jadi Ideologi Populer di Kalangan Pemuda

by
Sejarah Revolusi Indonesia, Sosialisme Pernah Jadi Ideologi Populer di Kalangan Pemuda thumbnail
Potret Sutan Syahrir (Ketua Partai Sosialis Indonesia, PSI) yang kemungkinan sedang memberikan pengajaran ideologi sosialisme kepada para anggota-anggotanya pada tahun 1955. Foto: Procure/Ist

Sejarah revolusi Indonesia ternyata sangat menarik untuk kita bahas secara mendalam. Hal ini dikarenakan pada masa itu ternyata ideologi sosialisme yang dianggap bahaya.

Meski begitu, justru pernah populer di kalangan pemuda yang sedang berjuang membela negara.

Tentu sebelumnya peristiwa ini tidak pernah muncul atau pun terpikir dalam benak sejarawan. Sebab sumber untuk menulis tentang peristiwa ini dinilai sangat sulit untuk didapatkan.

Namun berdasarkan penelitian Peter Kasenda dalam buku berjudul “Soekarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia”, (2014: 24) banyak sekali sumber-sumber yang belum dipublikasi sebelumnya mengenai historiografi ideologi bangsa Indonesia.

Nah berikut akan dijelaskan apa saja catatan baru mengenai alasan mengapa prinsip sosialisme pernah menjadi ideologi yang populer sejak masa revolusi.

baca juga: Kisah Bung Karno Pernah Satu Kos dengan Pendiri PKI

Alasan Mengapa Ideologi Sosialisme Populer pada Sejarah Revolusi Indonesia

Ideologi yang pernah dianggap kacau dan berbahaya ini, ternyata pernah populer pada generation revolusi Indonesia.

Kepopuleran prinsip sosialisme ini antara lain karena lima hal. Apa sajakah yang menjadi pengaruhnya, silakan simak ulasannya berikut ini :

Pimpinan Tokoh Politik yang Berasal dari Kelompok Kiri

Sebagaimana Peter Kasenda, (2014: 25) mengemukakan bahwa populernya ideologi sosialisme ini, terjadi karena para pemimpin pemuda itu meruapakan tokoh politik yang beraliran kiri.

Teminologi kiri dalam sejarah revolusi Indonesia sebagai golongan yang memiliki aliran sosialisme dan komunisme.

Adapun tokoh-tokoh yang memiliki aliran sosialis kiri, antara lain bisa terlihat dari eksistensi Partai Nasionalisme Indonesia (PNI).

Meskipun mereka (para anggota PNI) menyebut golongannya sebagai kelompok yang nasionalis, tetapi banyak sejarawan seperti Peter Kasenda yang mengatakan ideologi PNI sarat dengan unsur sosialisme yang fanatik.

Sebut saja Soekarno, beliau merupakan salah satu mantan ketua PNI yang paling berpengaruh saat itu memiliki unsur sosialisme yang kuat.

Bahkan, ia pernah mendirikan satu konsep semacam ideologi yang menyerap dari nilai-nilai sosialisme bernama marhaenisme.

Selain itu ia juga kerap membaca teori-teori Marxisme hingga menerapkannya untuk bangsa Indonesia.

Selain Soekarno, terdapat Hatta, dan Sjahrir.

Tiga tokoh yang ini secara tidak langsung sudah menyumbangkan beberapa pemikiran sosialisme untuk bangsa Indonesia pada masa revolusi.

Apalagi Sjahrir yang saat itu sebagai pemuda sosialis sejati milik bangsa.

Begitu juga dengan partai Moerba bentukan Tan Malaka. Hingga akhir hayatnya tokoh tersebut sangat menyetujui bahwa Indonesia harus dipenuhi dengan unsur sosialisme dalam meraih kemerdekaannya.

baca juga: Sejarah Sarekat Abangan, Perkumpulan Ahli Mistik Jawa yang Berpolitik

Prinsip Sosialisme ada Dalam Pancasila

Peter Kasenda (2014: 24-25) juga mengemukakan jika prinsip sosialisme yang saat itu populer di kalangan pemuda, antara lain karena butir terakhir dari Pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Hal ini mampu mewakili prinsip tentang rasa nasionalisme yang kuat untuk mempersatukan bangsa dengan satu kesepakatan bersama.

Selain itu sejarah revolusi Indonesia juga menyebut bahwa, dasar negara kita Indonesia yang agung ini secara tegas menentang semua bentuk pemerintahan dengan otoritarianisme, dan fasisme yang kejam.

Pada intinya, butir keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang ada dalam Pancasila bertujuan untuk memperoleh keamanan dalam berbangsa dan bernegara.

baca juga: Sejarah Cipto Mangunkusumo, Intelektual Kritis yang Revolusioner

Setiap Partai Mempertegas Ajaran Sosialisme

Seperti halnya dalam penggalan sejarah revolusi Indonesia yang menyebut bahwa setiap partai yang ada pada masa genting, semakin mempertegas ajaras sosialisme untuk menguji kesetian rakyat kepada negaranya.

Konsep ini karena masa revolusi ini tidak lagi seperti masa pergerakan nasional ala organisas Budi Utomo (1908).

Kepartaian pada masa revolusi justru lebih mengutamakan foundation pengajaran, bukan memperkuat keanggotaan dalam organisasinya.

Pengajaran berbasis partai pertamakali oleh PSI (Partai Sosialisme Indonesia) sekitar tahun 1952.

Dalam suasana kongres yang besar PSI mengungkapkan kepada anggotannya bahwa, pengajaran ideologi sosialisme yang mendasar berasal dari paham Marxisian.

Mereka mempercayai bahwa selain ajaran, Marxisme juga bisa seperti obat, alternatif, dan solusi untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara ini. 

PSI Menjadi Partai Sosialis Populer

Meskipun secara terbuka mengatakan para sosialisme meyakini paham Marxisian sebagai dasar keyakinannya.

Namun mereka mengajarkan ajaran ini kepada anggota PSI dengan ajaran Marxis yang berbeda dari Barat.

Jika di Barat paham Marxisme identik dengan satu paham yang mempertentangkan kelas yang berisiko menimbulkan kerusuhan, berbeda halnya dengan Marxisme PSI saat itu yang lebih mengarah pada semangat persatuan.

Pada intinya PSI lebih mengutamakan ideologi sosialisme berbasis demokrasi. Dengan seperti ini mereka optimis mencapai perdamaian dalam kebangsaan.

PSI Bubar Karena Terindikasi Subversif

Sejarah revolusi Indonesia mencatat PSI dibubarkan karena telah melawan negara melalui pemberontakan Permesta yang terjadi sekitar tahun 1958.

Soekarno selaku presiden pertama yang merasa terganggu dengan gerakan separatis ini, akhirnya resmi membubarkan siapapun yang terlibat dengan pemberontakan ini.

Dengan mengeluarkan Dekrit Presiden pada Agustus 1960, maka secara langsung organisasi terlibat Permesta seperti Masyumi dan PSI sebagai organisasi terlarang.

Itulah 5 alasan mengenai “kenapa ideologi sosialisme populer pada masa revolusi”. Adapun kriteria tersebut merupakan sebuah riset dari catatan sejarah revolusi Indonesia. (Erik/R6/HR-Online)

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *