RSUD Banjar Pastikan Stok Peti Jenazah Tersedia untuk Pasien Covid-19

by
RSUD Banjar Pastikan Stok Peti Jenazah Tersedia untuk Pasien Covid-19 thumbnail
Petugas kesehatan ketika mengecek peti jenazah di ruang Instalasi Pemulasaraan Jenazah (IPJ) RSUD Kota Banjar, Foto: Sandi/HR.

Isu Banjar, (harapanrakyat.com),- RSUD Kota Banjar pastikan stok peti jenazah untuk pasien meninggal dunia yang akan terjadi terpapar covid-19 aman seiring meningkatnya kasus positif.

Dirut RSUD Banjar, drg. Eka Lina Liandari, mengatakan, meskipun dalam beberapa hari terakhir terdapat lonjakan pasien meninggal dunia yang akan terjadi virus corona, pihaknya memastikan ketersediaan peti jenazah masih aman.

“Untuk peti jenazah masih ada. Insya Allah tidak kekurangan meskipun beberapa hari terakhir banyak pasien positif yang meninggal dunia,” kata drg. Eka, Senin (28/6/2021).

Eka menambahkan, pihaknya akan memaksimalkan produksi peti jenazah untuk menjaga ketersediaan kalau terus terjadi peningkatan pasien positif meninggal dunia.

“Memang produksinya kita maksimalkan 5 peti per hari untuk menjaga ketersediaan. Mudah-mudahan semuanya sehat dan tidak terjadi lagi peningkatan pasien positif meninggal,” terang Eka.

Ketersediaan peti ketika ini, lanjut Eka, di RSUD masih tersedia sebanyak 9 buah, ukuran besar sebanyak tujuh, kecil satu, dan khusus non muslim satu.

baca juga: Kejari Kota Banjar dan Inspektorat Investigasi Penyalahgunaan Dana PBB

Kasus Positif Capai 71 Orang

Dari details Satgas Akselerasi Penanganan Covid-19 Kota Banjar, sebanyak 71 orang terpapar virus corona.

Jubir Satgas Kota Banjar, H. Agus Nugraha, mengatakan, penularan virus Corona di wilayahnya kebanyakan berasal dari kluster keluarga.

“Kebanyakan penambahan dari kluster keluarga. Kemudian berdampak ke mana-mana sehingga Kota Banjar dikepung covid-19,” kata Agus.

Ad interim itu, jumlah keseluruhan kasus dari awal hingga ketika ini mencapai 2.459 kasus positif Covid-19, di antaranya 481 pasien menjalani isolasi berdikari, 7 orang di rumah sakit, 1917 orang sembuh, dan 54 orang meninggal dunia.

“Poly masyarakat sudah banyak yang abai sehingga tidak patuh prokes. Kelihatannya juga sudah jenuh dengan keadaan. Makanya efeknya mengalami lonjakan,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harus berani menutup semua aktivitas secara umum. Jika tidak, maka bakal menghabiskan anggaran, pikiran dan tenaga. (Sandi/R6/HR-Online)

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *