Ngerinya Tapering 2013 bagi Rupiah, Terjadi Lagi Tahun Ini?

by
Ngerinya Tapering 2013 bagi Rupiah, Terjadi Lagi Tahun Ini? thumbnail

Jakarta, CNBC Indonesia – Isu tapering sedang mengemuka lagi sejak pekan lalu, bukan sekedar spekulasi, tetapi diungkapkan sendiri oleh financial institution sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed).

Risalah rapat kebijakan moneter The Fed edisi Juli menunjukkan peluang tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) di tahun ini.

Inflasi di AS yang dikatakan sudah mencapai aim dan pemulihan pasar tenaga kerja juga hampir sesuai ekspektasi, membuat mayoritas anggota dewan memilih tapering di tahun ini.



“Melihat ke depan, sebagian besar partisipan (Federal Birth Market Committee/FOMC) mencatat bahwa selama pemulihan ekonomi secara luas sesuai dengan ekspektasi mereka, maka akan tepat untuk melakukan pengurangan nilai pembelian aset di tahun ini,” tulis risalah tersebut yang dirilis Kamis (19/8/2021) dini hari waktu Indonesia.

Dolar AS langsung melesat, sepanjang pekan lalu membukukan penguatan lebih dari 1% dan menyentuh level tertinggi sejak November tahun lalu. Rupiah pada pekan lalu akhirnya membukukan pelemahan 0,45%.

Pelemahan yang tipis, tetapi jika berkaca pada 2013 hingga 2015, saat pengumuman tapering, kemudian tapering dilakukan, dan pasca tapering, rupiah merosot hingga 50%.

Pada Juni 2013 The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke mengeluarkan wacana tapering QE.

Pengumuman mengejutkan tersebut membuat aliran modal keluar dari negara emerging market seperti Indonesia dan kembali ke Amerika Serikat yang membuat dolar AS menguat dan rupiah terpuruk. Pasar finansial global juga bergejolak, yang dikenal dengan istilah taper tantrum.

The Fed akhirnya mulai mengurangi QE sebesar US$ 10 miliar per bulan dimulai pada Desember 2013, hingga akhirnya dihentikan pada Oktober 2014. Akibatnya, sepanjang 2014, indeks dolar melesat lebih dari 12%.

Tidak sampai di situ, setelah QE berakhir muncul wacana normalisasi alias kenaikan suku bunga The Fed, yang membuat dolar AS terus berjaya hingga akhir 2015 saat suku bunga acuan akhirnya dinaikkan 25 foundation poin menjadi 0,5%.

Setelahnya, The Fed mempertahankan suku bunga tersebut selama 1 tahun, penguatan indeks dolar pun mereda.

Rupiah menjadi salah satu korban keganasan taper tantrum kala itu. Sejak Bernanke mengumumkan tapering Juni 2013 nilai tukar rupiah terus merosot hingga puncak pelemahan pada September 2015.

Di akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp 9.790/US$ sementara pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730/US$, artinya terjadi pelemahan lebih dari 50%.

HALAMAN SELANJUTNYA Tapering Tanpa Taper Tantrum

Tapering Tanpa Taper Tantrum

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *