Investasi di Kota Banjar Meningkat Tapi Serapan Tenaga Kerja Rendah

by
Investasi di Kota Banjar Meningkat Tapi Serapan Tenaga Kerja Rendah thumbnail
Ketua HIPMI Kota Banjar Aep Saepul Hijbi. Foto: Muhlisin/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Banjar, Jawa Barat, Aep Saepul Hijbi, menanggapi meningkatnya realisasi investasi di Kota Banjar. Menurutnya, Kota Banjar dalam realisasi investasi memang meningkat, namun belum berdampak positif pada serapan tenaga kerja.

“Meningkatnya nilai investasi tersebut tentunya perlu diapresiasi,” katanya kepada HR Online, Minggu (22/8/2021).

Apalagi, lanjutnya, dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi saat ini masih berada di posisi sulit. Karena masih terganggu dengan situasi pandemi Covid-19 yang belum mereda.

“Tentunya kita patut bersyukur ya investasi di Kota Banjar meningkat secara one year on one year. Walaupun serapan tenaga kerjanya masih kecil. Tapi saya rasa tetap harus diapresiasi, karena dunia usaha memang masih terbelenggu dengan pandemi Covid-19,” ucapnya.

Solusi Agar Investasi dan Serapan Tenaga Kerja di Kota Banjar Bisa Selaras

Sementara agar peningkatan nilai investasi bisa berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja, pihaknya mendorong kepada pemerintah, juga mendukung dan memperhatikan investasi sektor sekunder atau padat karya.

“Jadi bukan hanya investasi padat modal sektor tersier saja,” terangnya.

Aep menyebutkan, beberapa investasi padat karya sektor sekunder yang perlu didukung itu, seperti industri makanan dan minuman. Kemudian, konveksi menengah besar dan lainnya, yang umumnya mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Sektor konveksi menengah besar umumnya menyerap banyak tenaga kerja. Begitu juga sektor industri yang notabene satu pabrik saja bisa menyerap ribuan tenaga kerja,” ujarnya.

Selain mendorong sektor padat karya, lanjut Aep, pemerintah juga harus lebih professional aktif jemput bola. Hal tersebut agar para investor-investor dari luar daerah mau masuk dan menanamkan investasinya di Kota Banjar.

Kemudian, Pemkot juga seharusnya memberikan insentif atau apresiasi, dan menjadikan skala prioritas kepada investor baru yang mau menanamkan modalnya, terutama untuk industri skala besar. Karena investasi itu, menurutnya bisa menimbulkan multiplier pause ke sektor-sektor yang lain.

Namun sebelum itu, sambung Aep, upaya menarik investor itu juga tentunya harus bersamaan dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Seperti penataan tata ruang dan tata wilayah, untuk zona industri ataupun zona ekonomi lainnya.

“Caranya, ya tentunya dengan membenahi tata ruang dan tata wilayah untuk zona industri ataupun zona lainnya. Memang saya dengar sedang digodok dan masuk tahap finalisasi,” katanya.

Tangkap Peluang Investasi

Lebih lanjut Aep menambahkan, terkait dominannya investasi sektor tersier (investasi padat modal) yang kurang menyerap tenaga kerja jumlah besar, menurutnya hal itu wajar. Karena sampai saat ini, Banjar masih dominan pada sektor perdagangan dan jasa.

Meski begitu, pihaknya optimis kedepan Kota Banjar bisa membranding diri, menjadi kota jasa kesehatan ataupun industri. “Walaupun memang Kota Banjar harus banyak berbenah untuk menuju ke sana,” ucapnya.

Terakhir, kata Aep, pihaknya mendengar informasi dari asosiasi pengusaha di Jawa Barat, ada investasi sebesar 75 triliun akan masuk Jawa Barat.

“Saya harap pemerintah bisa menangkap peluang tersebut. Karena kami dunia usaha tentunya menginginkan daya beli masyarakat di Kota Banjar bisa terus meningkat dengan signifikan dari tahun ke tahun,” katanya. (Muhlisin/R5/HR-Online)

Editor : Adi Karyanto

Read More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *