BI: Transaksi LCS dengan Thailand-Malaysia-Jepang Rp17,1 T

by
BI: Transaksi LCS dengan Thailand-Malaysia-Jepang Rp17,1 T thumbnail

Jakarta, CNBC Indonesia –┬áBank Indonesia (BI) mengungkapkan, sejak Januari-Juli 2021, nilai kerja sama penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal (Native Forex Settlement/LCS) telah mencapai US$ 1,2 miliar atau setara Rp 17,1 triliun.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Rahmatullah Sjamsudin dalam video convention, Rabu (8/9/2021).

“Alhamdulillah 2021 sampai Juli whole sudah US$ 1,2 miliar dengan Thailand, Malaysia, dan Jepang, dengan rata-rata per bulan US$ 177 juta,” ujarnya.

Transaksi LCS dengan Jepang, ia menyebutkan transaksinya signifikan meningkat, yaitu mencapai US$ 190 juta selama Januari-Juli 2021.

Sampai saat ini, selain Thailand, Jepang, dan Malaysia, Indonesia juga sudah menjalin kerja sama bilateral untuk transaksi LCS dengan China yang baru saja resmi disepakati pada 6 September 2021.

Rahmatullah mengungkapkan LCS pertama kali dilakukan pada 2018 dengan Thailand dan Malaysia dengan nilai rata-rata per bulan US$ 31,7 juta, sehingga keseluruhan tahun mencapai US$ 350 juta.

Kemudian pada 2019 transaksi LCS juga hanya dilakukan dengan Thailand dan Malaysia dengan whole mencapai US$ 760 juta dalam keseluruhan tahun, atau setara dengan US$ 63,3 juta rata-rata per bulan.

Pada 2020 transaksi LCS kian meningkat dan sudah dilakukan dengan tiga negara yakni Thailand, Malaysia, dan Jepang dengan rata-rata US$ 72,2 juta per bulan atau secara whole mencapai US$ 800 juta.

Adanya transaksi LCS ini, kata Rahmat, tentu membantu BI dalam melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Sebab, selama ini perdagangan barang dan jasa, investasi, pembayaran remitensi, dan transfer dividen ke negara mitra tersebut menggunakan dolar AS.

Di saat-saat seperti itu, tentu membuat permintaan dolar AS tinggi. Belum lagi Indonesia dihadapi dengan adanya //capital outflow// atau aliran dana asing keluar.

“Dengan adanya LCS tentu berkurang. Dengan Jepang //principally// menggunakan yen, Malaysia dengan ringgit, dan Thailand dengan baht. Sementara China dengan renmimbi,” jelas Rahmatullah.

Selain itu, adanya peningkatan transaksi LCS menjadi sinyal baik karena akan memberikan banyak keuntungan, kemudahan dan efisiensi bagi kedua negara yang telah bekerja sama dalam transaksi perdagangan dan investasi.




[Gambas:Video CNBC]



(miq/miq)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *