Jangan membayangkan motor di Malaysia adalah motor-motor baru. Warga Kuala Lumpur, misalnya, lebih memilih sepeda motor tua yang sudah lama punah di Indonesia. Biar keren, motor 1980-an itu dibuatkan keranjang di bawah setir. Atau kotak tempat helm di ujung sadel belakang.

Laporan: Indar Ismail

Azan subuh baru 30 menit lalu berkumandang di langit-langit Shah Alam, dekat Sepang, Selangor, Malaysia pada Selasa dua pekan lalu. Walaupun masih pagi, kendaraan sudah lalu lalang. Mobil-mobil Proton, pabrikan Jepang dan Korea mewarnai aktivitas di awal hari itu. Tak ada kemacetan. Yang menyita perhatian saya adalah sepeda motor. Di sini, sama halnya dengan di Kuala Lumpur (KL), sepeda motor tua produksi tahun 1970-1980-an masih banyak dijumpai, beriringan dengan sepeda motor pabrikan Jepang terkini. Jika di Palu, saya membayangkan motor-motor tua tersebut sudah terdata di museum.

Tapi di pusat kota Malaysia, pengendara tetap percaya diri berkeliling dengan motor tua itu. Walaupun demikian, disiplin dalam berlalulintas menjadi kata kunci yang perlu dipelajari. Jangankan ugal-ugalan, parkir di tepi jalan jarang dijumpai di KL. Pengendara dengan tertib memarkir kendaraannya. Jika bangunan tak memiliki lahan parkir luas, parkir biasanya disiapkan di sebidang tanah yang tidak jauh dari lokasi aktivitas tersebut. Tapi jangan membayangkan jumlah motor sama banyaknya dengan di Indonesia. Di KL, mobil lebih banyak daripada motor.

Kenyamanan atau lebih tepatnya keselamatan  menjadi alasan kurangnya pemakaian motor.  Bahkan ojek daring motor tidak diperkenankan oleh Pemerintah Kerajaan Malaysia.  Anehnya, meskipun kepemilikan motor rendah, Malaysia menjadi tuan rumah MotoGP. Sebagaimana diketahui, MotoGP juga menjadi salah satu media bagi pabrikan motor untuk mempromosikan produknya, seperti halnya Yamaha, Honda dan Suzuki.

Jika ingin berkeliling KL dengan gratis, pengunjung bisa menggunakan “Bas Percuma”. Di bus gratis ini, pengunjung bebas naik atau turun tanpa harus membayar. Bas Percuma dioperasikan oleh GOKL, sebuah perusahaan milik pemerintah Malaysia.  Hanif (30), sopir Bas Percuma mengatakan kepada saya bahwa bus gratis ini sudah tiga tahun terakhir beroperasi di dalam KL. Hanif mulai melayani penumpang sejak pukul 08.00 hingga petang. Di pagi dan sore hari, Bas Percuma dipadati penumpang yang pergi maupun pulang kantor. Para wisatawan luar negeri juga memanfaatkan bus ini, tak terkecuali rombongan kami, Mercusuar-Tri Media Grup. Agar penumpang tidak sampai kesasar, di setiap halte bus terdapat rute bus. GOKL  memiliki pengatur suhu udara, wifi dan info setiap kali pemberhentian bus.

Transportasi publik lainnya adalah Light Rail Transit (LRT). Komuter  ini padat penumpang lantaran menghubungkan pusat kota dengan daerah-daerah pinggiran KL. Rombongan kami, Pimpinan Umum Mercusuar- Tri Media Grup Tri Putra Toana, Wakil Pimpinan Umum Mercusuar  Mira Toana, Manajer Iklan Mahful Haruna dan saya sendiri berkesempatan menaiki komuter ini dari stasiun di Batu Caves ke KL  Central. Tiketnya koin plastik, warna warni.

Saya mencoba mencari celah di sepanjang jalan, di sudut-sudut KL, adakah kiranya jasa perparkiran? Pada akhirnya saya sendiri menjawab tidak ada.  Lalu pandangan saya beralih kepada trotoar. Sebagian tempat bagi pejalan kaki ini dipisahkan dengan taman yang mini dari sisi bahu jalan. Saya teringat pemandangan ini dengan Kota Batam di Kepulauan Riau.

Di KL dan beberapa tempat di pusat Malaysia, ruang terbuka hijau banyak tersedia.  Di antara gedung-gedung pencakar langit, terdapat pohon-pohon yang asri. Kotanya pun bersih. Kearifan lain adalah sikap pemerintah kerajaan yang menjaga tekstur tanah. Tak ada pengerukan. Insfrastruktur dibangun mengikuti kontur muka bumi. Maka di KL, saya masih menjumpai bukit-bukit kecil di dalam kota yang tidak diratakan atau sengaja dibiarkan.

Selain transportasi, telekomunikasi juga menyita perhatian saya. Di negeri modern ini, kita masih bisa menjumpai telepon umum. Telepon yang dapat diakses dengan menggunakan koin Ringgit Malaysia ini bisa ditemukan di ruang publik, termasuk di pusat-pusat perbelanjaan. Kalau di Indonesia, telepon umum sudah lama punah. Saya ingat, terakhir menggunakannya pada tahun 2000, di sudut rumah sakit di kota Tolitoli, Sulteng.***

Harian Mercusuar

View all posts