SIGI, MERCUSUAR – Ratna (40), warga Dusun Tompu, Desa Loru, Kecamatan Sigi Biromaru menderita lumpuh selama 40 tahun atau tepatnya sejak lahir. Puluhan tahun tak tertangani, apalagi desa itu merupakan wilayah terpencil di pegunungan dengan akses jalan yang sulit dijangkau.

Ratupasi (60), ayah Ratna mengatakan anaknya itu hanya dapat berbaring. Ironisnya, Ratna pun tidak dapat berbicara.

“Dia cuma bisa mengangguk dan melirikkan kedua matanya kalau ada yang menyapanya. Kadang mulutnya bergerak sedikit tapi dia tidak bisa bicara. Ini terjadi sejak lahir sampai umurnya 40 tahun,” jelas Ratupasi, Selasa (13/2/2018).

Katanya, pelayanan kesehatan di desa tersebut belum maksimal. Apalagi Ratna hingga kini belum tertolong bahkan belum memperoleh perhatian dari pihak terkait.

Lanjutnya, Ratna memiliki lima saudara,dimana tiga sudaranya telah menikah. Ratupasi pun mengaku pasrah dengan kondisi ratna. “Kalau memang mau berobat, kita juga tidak punya uang yang cukup. Saya Cuma pekerja kebun, jadi kita pasrah saja menerima kondisi Ratna. Begini sudah hidup kami, uang yang didapat cuma bisa dipakai makan hari ini dan besok. Apalagi kita jauh dari kota, sekitar sembila kilometer dari Ngatabaru. Hidup di tempat terpencil tidak bisa berbuat banyak,” ujarnya.

Sementara pengurus Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Dusun Tompu, Kanasir mengaku Dinas Kesehatan Sigi melalui tenaga-tenaga kesehatannya di kecamatan jarang memantau kondisi dusun tersebut. “Jadwal mereka kemari ini tiga bulan sekali, itu pun yang datang hanya kader kesehatan yang belum bisa melakukan pemeriksaan kesehatan lebih jauh. Yang kita harapkan dokter bisa datang ke rumah-rumah warga, tapi belum pernah dilakukan,” tutup Kanasir. BAH

Harian Mercusuar

View all posts