TALISE, MERCUSUAR- – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Tengah (Sulteng), menyatakan beroperasinya PT Citra Palu Mineral (CPM) di Tambang Poboya haruslah  belajar dari peristiwa di Sidoarjo. Pasalnya, beroprasinya CPM di Poboya menyimpan ancaman cukup besar bagi masyarakat Kota Palu.

Manager Kampanye Walhi Sulteng, Stevandi, mengatakan, sejak diterbitkannya Surat Keputusan Menteri  Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Nomor:422.K/30.DJB/2017, PT CPM resmi siap beroperasi. Dalam dokumen kerangka acuan rencana kegiatan penambangan dan pengelolaan emas di Blok I Poboya, dijelaskan, model pertambangan yang akan dilakukan oleh PT CPM adalah model pertambangan bawah tanah (Underground Mining).

“Bila Melihat fakta itu, keberadaan CPM melakukan eksploitasi akan menggunakan bom atau dinamit untuk peledakan membuat terowongan tambang. Tentunya, dengan penggunaan bom atau dinamit,  dapat berdampak terhadap aktivitas Palu Koro,” jelas Stevandi kepada Sulteng Raya, Ahad (7/1/2018).

Sehingga, kata dia, getaran ledakan besar akan menimbulkan kemungkinkan munculnya reaksi gempa sepanjang Patahan Palu Koro. Menurut dia, getaran itu bisa memunculkan berbagai ancaman, seperti gempa dan lain sebagainya.

“Sehingga, ini perlu menjadi bahan analisis yang tajam, untuk beroprasinya CPM kedepannya. Mengingat, keselamatan orang banyak dari ancaman yang bisa ditimbulkan nantinya,” ujarnya.

Menurutnya, Kota Palu merupakan daerah yang terdapat Sesar (patahan) sebagai salah satu Sesar Gempa  paling aktif di dunia. Berdasarkan analisis Geologi, kata dia, Panjang keseluruhan Sesar Palu Koro adalah 500 Km. Sesar ini, memotong Kota Palu hampir tegak lurus dari selatan hingga utara.

Dia menuturkan, hal itu juga diperkuat pernyataan seorang ahli Geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman, yang pernah mengatakan, Sesar Palu Koro dan Sesar Matano menyimpan energi guncangan gempa yang besar.

“Rambatan gempa yang diakibatkan pergerakan Sesar Palu Koro dan Sesar Matano sudah berada di level tertinggi. Setara dengan akselerasi gravitasi 0,6 G. Kalau sudah 0,6 G levelnya sudah sangat parah,” ucapnya.

Beberapa tahun silam, kata dia, kelalaian korporasi Lapindo Brantas melakukan pengeboran di Porong Sidoarjo telah meninggalkan catatan kelam dalam sejarah petambangan di Indonesia. Perusahan yang sebagian besar sahamnya dimiliki Grup Bakrie itu, telah menenggelamkan 16 desa di tiga kecamatan. Total warga yang dievakuasi sebanyak 8.200 jiwa lebih dan tak kurang 25.000 jiwa mengungsi. Sementara, sekitar 10.426 unit rumah terendam lumpur.

“Hal itu, seharusnya menjadi catatan bagi masyarakat Kota Palu, pertambangan yang tidak memikirkan dampak mengenai ancaman, sudah pasti akan dibayar mahal oleh kita. Apalagi PT CPM sendiri merupakan perusahaan yang dimiliki Bakrie Grup yang mempunyai sejarah Kelam Pertambangan di Indonesia seperti yang pernah terjadi di Porong Sidoarjo,”ucapnya.

Dia berharap, masyarakat Kota Palu bisa lebih proaktif menanggapi persoalan tambang tidak ramah lingkungan, demi keberlangsungan hidup manusia khususnya di Kota Palu.SR

Resti Ananda Putri

View all posts