• Kopi Toratima Komoditi Andalan Sigi

 

JAKARTA, MERCUSUAR – Wakil Bupati Kabupaten Sigi, Paulina Hartono mendapat kesempatan pertama menyampaikan testimoni mengenai program Kabupaten Sigi Masa Gena alias Sigi Berdaya Saing. Program itu merupakan program prioritas dalam upaya penanggulangan kemiskinan di wilayah terpencil khususnya wilayah Pipikoro dan Marawola, Kabupaten Sigi.

Hal itu dikemukakan Wabub Paulina pada rapat koordinasi (Rakor) bersama 17 Kementrian dengan Karsa Institute, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  lokal dan nasional di salah satu hotel, Jalan Pecenongan, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017). Kegiatan ini difasilitasi Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK).

Dalam rakor itu, Wabub Paulina mengemukakan, keterbatasan akses di wilayahnya merupakan tantangan tersediri pemerintah kabupaten. Namun demikian katanya, pemkab tidak boleh pasrah, karena pihaknya sudah melaksanakan beberapa program bantuan terhadap tenaga kesehatan dan tenaga pendidik.

“Saat ini yang kami lakukan bantuan 16 motor ambulance untuk 16 Desa di Kecamatan Pipikoro, pemberian insentif untuk tenaga guru dan kesehatan yang bekerja di wilayah terpencil,” tutur Wabub Paulina.

Pemkab Sigi katanya, saat ini mengupayakan beasiswa bagi pelajar yang berada di wilayah terpencil. Menurutnya, upaya pemerataan pembangunan di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan, tapi Pemkab Sigi sudah memulainya.

Hal itu dibuktikan, belum lama ini  pemkab melakukan transfer pengetahuan dan teknologi dengan belajar bersama di Masamba. Pemkab Sigi kata Wabub Paulina, saat ini punya produk industri rumah tangga yang disebutkan masyarakat Sigi tela – tela berbahan baku ubi.

Di wilayah terpencil yang sulit akses jalannya, komoditi ubi kayu sering kali memiliki nilai ekonomi rendah, yang diakibat biaya transportasi yang tinggi. Ubi tidak menjadi tanaman pilihan bagi petani kecil, ubi hanya cukup untuk makanan ternak.

“Hari ini tela tela yang berbahan baku ubi menjadi cemilan yang membumi di sigi bahkan menjadi oleh – oleh,” katanya

Sebagai pemimpin perempuan di daerahnya, Wabub Paulina sangat merasakan perubahan bagi ibu  – ibu rumah tangga di Pipikoro yang merupakan wilayah terpencil. Di Pipikoro juga mempunyai kopi khas dengan nama Toratima.

Ini merupakan bukti bukti bahwa wilayah terpencil punya komoditi andalan kopi Toratima yang dipersembahkan untuk Indonesia. Ini sebuah pesan bahwa ada kebangkitan perempuan di wilayah terpencil setara dan bermartabat dalam ruang ekonomi dan pasar domestik dan nasional.

“Kami berharap kementrian yang hadir yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu karena ada 17 kementrian dapat mendukung inisiasi yang kami lakukan,” katanya

Dukungan itu sebut Wabub Paulina, dimulai di level desa dengan pengelolaan dana desa. Khususnya diperuntukan bagi insentif Guru PAUD dan tenaga kesehatan. Harapannya adalah mengalokasikan anggaran untuk modal Bumdes.

Keputusannya harus direspon karena cara pandang pembangunan tidak melulu terkait fisik saja, inisiasi desa dan inisiasi kabupaten bisa direspon positif oleh kementrian, utamanya kementrian terkait. Hadir pada rakor ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Desa, Kementrian Kesehatan, Kementrian Koperasi, Kementrian Perindustrian, Kementrian Pekerjaan Umum, Kementrian Sosial, dan Kementrian Pertanian. Wabub Paulina berharap, usulan ini ditindak lanjuti Kemenko PMK untuk selanjutnya menjadi masukan bagi Bappenas. BOB

Harian Mercusuar

View all posts