PALU, MERCUSUAR – Tingkat lietrasi keuangan masyarakat di Sulawesi Tengah sampai sekarang masih rendah, sebesar 15 persen. Itu artinya, hanya 15 dari 100 orang yang memiliki pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan terhadap produk atau layanan keuangan.

Sementara utilitas sebesar 35 persen yang berarti hanya 35 dari 100 orang yang dapat mengakses produk keuangan,” kata Gubernur Sulawesi Tengah.

Hal itu dikemukakan gubernur diwakili Asisten 2, Bunga Elim Somba saat membuka Sulteng Finance Expo di Palu Grand Mall, Kamis (27/10) petang.

Dikatakan, padahal di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Sulteng di triwulan 2 tahun ini tumbuh sebesar 15,52 persen. Sebagian besar ditopang sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan. Sedangkan penyaluran kredit bank posisi triwulan 2 tahun ini sebesar 23,6 triliun.

Soal kredit usaha rakyat, beerdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding KUR di Sulteng per 31 Agustus 2016 sebesar Rp 362,8 miliar dengan tingkat non performing loan (NPL) sebesar 5,45 persen.

Karenanya menurut gubernur, melalui Sulteng Financial Expo, memberikan apresiasi sekaligus berharap ajang ini menjadi sarana diseminator yang penting dalam menyelaraskan edukasi dan pengetahuan keuangan inklusif secara berkesinambungan.

Dengan demikian, akan dapat meningkatkan aksebilitas penyaluran kredit dan pembiayaan produktif maupun meningkatkan literasi dan inklusi keuangan Sulteng.

Menurutnya, bisa menjadi bahan pertimbangan potensi ekonomi Sulteng di sektor maritim, agribisnis, tambang, pariwisata, dan lainnya yang teramat besar.

Gubernur juga meniulai, ajang ini sangat bermanfaat sebagai wadah yang mempertemukan produk atau layanan keuangan dari industri jasa  keuangan dengan konsumen dan masyarakat. Sebagai upaya mewujudkan keuangan inklusif di Sulteng.

Itulah sebabnya, gubernur menilai kegiatan ini merupakan salah satu program kerja tim percepatan akses keuangan daerah. Ia berharap mampu memberi nilai tambah dalam rangka mendorong utilitas produk atau layanan keuangan bagi konsumen dan masyarakat.

Dengan begitu, akan dapat berkontribusi nyata terhadap aksebilitas atas penyaluran kredit atau pembiayaan produktif kepada sektor prioritas daerah dalam rangka mewujudkan Sulawesi Tengah yang maju, mandiri, dan berdaya saing.

Pertumbuhan Ekonomi           

Sementara Kepala OJK Sulteng, Moh Syukri A Yunus mengemukakan, keuangan inklusif merupakan suatu yang sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Syukri juga menjelaskan, Pemprov Sulteng dan OJK telah mengukuhkan tim percepatan akses keuangan daerah (TPAKD). Ini merupakan forum koordinasi antarinstansi dan stakeholders terkait mempercepat dan memperluas akses keuangan di daerah.

Dengan demikian, diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah serta pemerataan kesejahteraan masyarakat. Dibentuknya TPAKD merupakan respons atas rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan di Sulteng.

Berdasarkan statistik perbankan Indonesia di Sulteng, aset perbankan per 30 Juni 2016 sebesar Rp 29,2 triliun dengan jaringan kantor sebanyak 328.

Penyaluran kredit sebesar Rp 23,7 triliun dengan non performing loan sebesar 2,2 persen. Penyaluran kredit bank umum masih terkonsentrasi di sektor perdagangan sebesar Rp 6,2 triliun. Ini diperlukan diversifikasi penyaluran kredit ke sektor pertanian-perkebunan serta kemaritiman .

Ketua panitia pelaksana, Rahmat Abd Haris menjelaskan, banyak kegiatan yang akan digelar selama expo. Hampir semua industri jasa keuangan yang ada di Sulteng ikut terlibat dalam kegiatan yang baru pertama kalinya digelar.MAN

Harian Mercusuar

View all posts