Laporan Wartawan Mercusuar, Tasman Banto

 

BILA berkaraoke, saya suka menyanyikan lagu Kuta Bali yang dinyanyikan Andre Hehanusa. Tetapi kali ini, saya tidak menyanyikan lagu itu, kecuali menikmati indahnya matahari tenggelam di peraduannya di Pantai Kuta, Bali.

Di Pasir putih, Kau genggam erat tanganku, Menatap mentari yang tenggelam. Lagu itu rasanya lengkap menggambarkan suasana romantis bagi yang sedang kasmaran di Pantai Kuta.

Kebetulan, saya menyaksikan sepasang remaja menikmati betul tenggelamnya matahari, Rabu (1/11/2017) petang kemarin. Hidung mereka berdempet, dan kadang berciuman mesra. Berpelukan. Dua orang fotografer mengabadikan kemesraan mereka dengan latar belakang matahari kemerahan yang siap tenggelam.

Ternyata, keduanya sedang melakukan pemotretan prawedding.  Keduanya tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan. Keduanya adalah sepasang remaja dari Jepang, seperti dituturkan dua fotografernya dari Bali.

Ya, kemarin 40 wartawan peliput Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2017 diajak jalan-jalan ke Pantai Kuta. Karena malam harinya digelar dinner di Segara Restaurant, juga di sekitar Pantai Kuta.

Dari pengamatan Mercusuar, petang kemarin Pantai Kuta disesaki turis dari Jepang dan China. Gadis-gadis dari dua negara itu, asik mengabadikan proses tenggelamnya matahari. Mereka tampak sangat senang berswafoto dengan latar belakang matahari yang memerah.

Sunset dan Pantai Kuta ibarat seperti sepasang sandal yang saling melengkapi. Jika salah satunya hilang, maka sandal itu tak bisa dipakai. Kalaupun bisa, akan terlihat sangat aneh dan tak enak dilihat.

So pasti, menikmati suasana sunset di Pantai Kuta menjadi tujuan utama wisatawan. Buktinya, setiap menjelang petang, macet mulai terasa di sekitar Discovery Mall. Manusia mulai lalu lalang keluar masuk mall. Sebab, di belakang mall itulah menjadi pusat tempat menyaksikan sunset.

Matahari sudah mulai beranjak turun ketika kami tiba di Kuta. Sangat landai dan luas. Hanya saja, pasirnya berwarna sedikit kehitaman namun sangat lembut. Kami menikmati suasana di pantai ini sambil berjalan santai. Tentu saja, juga asik foto-foto.

Beruntung, kemarin langit sedang sangat cerah. Ternyata memang benar, suasana dan pemandangan sunset di pantai ini begitu menggoda. Pantas saja kalau banyak seniman yang terinspirasi olehnya.

Pemandangan sunset di Pantai Kuta terlihat semakin dramatis ketika matahari berada tepat di atas garis horison. Dengan alat seadanya, rata-rata pengunjung tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen yang indah itu.

Sampai akhirnya penjaga pantai meniupkan “peluit panjang”. Pertanda pengunjung dianjurkan untuk mengakhiri kegiatan di air karena hari semakin gelap. Bersamaan dengan itu, kami juga meluai masuk ke area Segara Restaurant untuk dinner .

Tempatnya di luar, di pinggir kolam renang. Dari tempat ini, kami dapat menyaksikan gulungan ombak yang datang memecahkan diri di pantai. Kebetulan, air mulai pasang. Istimewanya, ombaknya tak pernah berhenti, sehingga menjadi pemandangan tersendiri.***

Harian Mercusuar

View all posts