MOROWALI, MERCUSUAR – Perceraian di Kabupaten Morowali tergolong tinggi. Data tahun 2016 menunjukkan terjadi 157 perceraian, sedangkan sampai Oktober tahun ini,  telah terjadi 203 perceraian di Morowali.  Kebanyakan pihak yang menggugat perceraian adalah perempuan.  “Tingkat perceraian juga disebabkan karena penggunaan smartphone (telepon pintar), dan juga narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang),” ujar Bupati Morowali Anwar Hafid pada peluncuran proyek perubahan peningkatan kualitas keagamaan melalui optimalisasi peran BP4 Kabupaten Morowali, Sabtu (21/10/2017). Hadir Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, Abdullah Latopada.

Bupati Anwar Hafid juga berharap melalui kerjasama antara Badan Penasehat, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan  (BP4) dengan Pengadilan Agama dan Kemenag akan ada tim yang dibentuk untuk dapat menekan angka perceraian.  “Dampak perceraian ke depannya harus dapat dipertimbangkan juga, sehingga tidak mudah untuk memutuskan pasangan untuk bercerai,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Morowali Marwiah mengatakan peluncuran gerakan perubahan yang digagasnya merupakan pelaksanaan proyek perubahan dan bukan hal yang tiba-tiba dilakukan tanpa dasar sama sekali.

“Kondisi masyarakat di Kabupaten Morowali, khususnya umat Islam, mengalami krisis dalam hal ketahanan rumah tangga, karena tingkat perceraian di Morowali cukup tinggi,  peningkatan hingga 150 persen. Maka ini untuk meningkatkan pelayanan perlu adanya kerjasama Kemenag Morowali, Bupati, serta  Pengadilan Agama Morowali  agar lebih ketat lagi dalam menindaklanjuti laporan masyarakat dalam hal permasalahan rumah tangga,” katanya.

Marwiah mengharapkan dukungan Kakanwil dan Bupati, sehingga cita cita dan komitmen dalam pelayanan pada masyarakat, utamanya dalam memahami kasus perceraian. Karena Ketika perceraian terjadi, generasi kita akan terganggu.

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Abdullah Latopada mengatakan peran Kemenag dalam pencegahan perceraian melalui BP4 harus lebih diperketat lagi, dalam hal pengajuan keputusan bercerai.

Menurut Kakanwil, Kemenag Sulteng menggagas pendirian majelis hubbul wathan hingga ke tingkat desa.

“Dalam majelis taklim tersebut akan ada meteri yang diberikan ke masyarakat. Sehingga masyarakat dapat memahami agama dengan baik dan mereka mendapatkan bimbingan yang lebih baik lagi,. Maka selain dapat penambahan wawasan keagamaan Islam, diharapkan nantinya adapula  materi ketahanan keluarga sehingga dapat mencegah adanya niat maupun tindakan, untuk melakukan perceraian,” katanya.

“Di sisi lain kementerian agama juga tidak dapat disalahkan dalam hal ini, karena pembinaan keagamaan yang lemah di masyarakat. Beberapa kasus perceraian juga dipicu adanya teknologi yang berkembang, maupun penerapan teknologi komunikasi yang kurang bijak,” tambah Abdullah.

Kata Abdullah, ini menjadi tugas berbagai  pihak di masyarakat, bagaimana dapat menyikapi teknologi komunikasi dengan bijak. Keberadaan smartphone seperti bermata dua, dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Diharapkan adanya pemahaman keagamaan Islam yang baik nantinya akan mampu memfilter menyaring perbuatan buruk yang dilakukan melalui smartphone.  DAR

Harian Mercusuar

View all posts