PALU, MERCUSUAR – Pengamat pendidikan dari Universitas Tadulako Dr. Asep Mahpudz  menanggapi maraknya penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar  saat ini. Pihaknya mengimbau kepada seluruh sekolah lebih tegas dalam menangani narkoba.

Selain sekolah, juga perlu ada perhatian serius dari keluarga dan pihak lain untuk menyelamatkan pelajar dari pengaruh negatif narkotika. Jika tidak, dipastikan satu persatu pelajar yang ada di Sulteng, khususnya Kota Palu, akan menjadi penyalahguna narkotika.

Perlu diketahui, dari hasil penjangkauan BNN Kota Palu belum lama ini di sejumlah SMP Negeri di Kota Palu, telah berhasil mengamankan sebanyak 716 pelajar,  masing-masing THD dan Lem Fox 607 siswa, Sabu 83 Siswa, dan Ganja 2 siswa dan sisanya rokok.

Kata Asep, dalam hal konteks prespektif pendidikan, ada tiga cacatan yang perlu dipahami oleh masyarakat.

Pertama adalah masa-masa anak usia 12 – 25 tahun atau dewasa muda. Mereka ini butuh perhatian dari pihak orang tua. Usia seperti ini bisa menjadi sasaran atau pasar dari para pengedar narkoba. Maka dari itu, dialog antara orang tua dengan anak itu menjadi hal yang penting dilakukan.

Cacatan kedua kata Asep, pengedaran narkoba di kalangan pelajar terjadi di luar dari jam sekolah. Misalnya, di masa-masa waktu jam keluar sekolah SD atau SMP maupun SMA sederajat. Biasanya hal ini terjadi sekitar pukul 17.00 Wita atau menjelang magrib.

“Ini biasanya pasar waktu dan menjadi target untuk para pengedar narkoba. Olehnya, pihak sekolah mohon peduli terhadap pukul-pukul siswanya pulang sekolah. Karena saya belum lama ini mendapatkan informasi dari BNN dan Kepolisian bahwa, banyak anak-anak nongkrong di tempat-tempat tertentu, itu bisa menjadi pasar juga bagi para pengedar narkoba,” jelasnya, Kamis (19/10/2017).

Untuk itu kata Asep, pihak sekolah dengan orang tua harus bekerjasama dengan baik untuk menjaga keselamatan pelajar.

Cacatan ketiga, kata Asep, dibutuhkan sinergitas antarinstansi, baik itu BNN dengan Balai POM dan juga kepolisian.

Instansi polisi mungkin lebih pada penindakan, sementara Balai POM dan BNN lebih pada pencegahan. Sementara pihak lainnya seperti tenaga pendidik, masyarakat, tokoh agama serta tokoh masyarakat sebagai pendukung pencegahan hal ini.

Oleh karena itu kata dia, faktor kerjasama dengan masyarakat itu menjadi penting, maka diharapkan tindakan preventif harus lebih diintensifkan, terutama adalah dari pihak sekolah. “Saya setuju dengan kepala sekolah yang tidak memecat atau mengeluarkan anak didiknya yang terkena narkoba. Karena, mereka ini korban,” ungkapnya. UTM

Harian Mercusuar

View all posts