MERCUSUAR – Iin Mukmin Umar yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang lanjutan perkara dugaan malapraktik yang menjerat dr. Heryani Parawesi Sp. OG. Pada sidang yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Palu, Senin (12/2/2018). Saksi mengaku tindakan medis kuretase merupakan tindakan darurat untuk memberhentikan pendarahan, walaupun tidak ada persetujuan dari pihak keluarga, karena dibenarkan dalam dalam Undang – undang (UU) kesehatan.

Saksi yang dihadirkan dalam persidangan tersebut, merupakan asisten dokter bagian kandungan yang juga turut dalam proses operasi kepada korban. Dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim, sebelum dilakukannya operasi kepada korban, dirinyalah yang menangai korban untuk memberi tindakan awal dalam bentuk terapi berupa pemberian obat.

Di persidangan, saksi yang menerima pertanyaan dari JPU terkait persetujuan atas tindakan medis berupa operasi sesar dan ikat kandungan. Jelas saksi, bahwa surat persetujuan tersebut, diserahkan pada malam hari. Pada surat tersebut, saksi mengaku bahwa tindakan operasi yang akan dilakukan kepada korban hanya tertera operasi sesar dan ikat kandungan.

“Iya hanya dua tindakan medis, dalam persetujuan hanya operasi sesar dan ikat kandungan,” kata saksi menjawab pertanyaan JPU.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim memberikan kesempatan kepada tim kuasa hukum terdakwa. Di persidangan itu kuasa hukum menanyakan kepada saksi terkait pemeriksaan yang dilakukan penyidik kepolisian, dikarenakan ada beberapa jawaban saksi dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan di persidangan tidak sesuai  dan dianggap tidak konsisten dalam memberikan kesaksian dalam perkara tersebut. AND

 

 

 

Harian Mercusuar

View all posts