PALU, MERCUSUAR – Dari berbagai tempat di Nusantara, kita memiliki varietas padi lokal yang beragam. Dari 12 ribu varietas yang diperkirakan pernah ada, saat ini hanya tersisa 2.500 varietas padi lokal. Varietas tersebut hilang dengan sendirinya jika tidak dikembangkan melalui penelitian dan dukungan kebijakan pemerintah.

Demikian disampaikan Ketua Riset dan Pengembangan Teknologi DPP Komunitas Mari Sejahterakan Petani Ir Bingah Utomo TS MM saat berkunjung ke Palu, Minggu (14/5/2017).  Menurutnya, para dosen-dosen ilmu pertanian di kampus sepatutnya terpanggil untuk mengembangkan padi varietas lokal. Varietas adalah kelompok tanaman dalam jenis tertentu. Di Indonesia saat ini paling tidak ada tiga varietas besar padi yang dikenal, yakni varietas padi hibrida, varietas padi unggul dan varietas padi lokal. Dikatakan, di Sulteng memiliki beras lokal bernama “beras Kamba” yang dihasilkan oleh petani di Napu, Kabupaten Poso.  Beras tersebut enak dikonsumsi dan bisa bertahan lama hingga beberapa bulan. Pemerintah melalui instansi terkait sepatutnya mendukung varietas-varietas tersebut. “Yang penting bagaimana usia tanamnya pendek (lebih cepat dipanen),” katanya.

Sejauh ini untuk Sulteng, pihaknya telah mengembangkan dua jenis varietas padi, yakni pandan wangi di Kabupaten Tolitoli dan beras MSP di Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai. Di Tolitoli, beras tersebut dihasilkan dari lahan pertanian yang digarap anak-anak muda.  Yang menarik, varietas padi yang dikembangkan itu tidak menggunakan pestisida dan insektisida melainkan pupuk kompos dan pupuk olahan cair sehingga diklaim sehat untuk dikonsumsi, bulirnya besar dan harum.

Ditambahkan, sensus pertanian tahun 2013 menyebutkan ada sekitar delapan juta petani yang berusia di atas 55 tahun. Dalam sepuluh tahun mendatang usia ini akan hilang dan perlu diganti.  Karna itu, ia pun berharap sarjana pertanian bisa terlibat mendedikasikan ilmu yang dimiliki mengembangkan pertanian di daerah-daerah.

Sosiolog dari Universitas Tadulako Dr Surahman Cinu MSi mengatakan pengembangan padi varietas lokal dan penggunaan pupuk alamiah merupakan salah satu bentuk reforma agraria.  Ia menilai pertanian merupakan alternatif lapangan pekerjaan yang sangat prospektif untuk dikembangkan. “Ini peluang yang harus ditangkap anak-anak muda. Yang penting kita punya elan vital (daya juang),” katanya.  DAR

Harian Mercusuar

View all posts