PARIGI, MERCUSUAR – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anuntaloko Parigi Moutong mengeluarkan surat somasi kepada Advice Hukum korban diduga mala praktek atas nama Saiful Lasaka, SH yang dikeluarkan sejak tanggal 10 Agustus 2017 dan baru diterima 14 Agustus 2017.

Dalam surat somasi yang dikeluarkan oleh pihak RSUD Anuntaloko atas nama dr. Nurlaila Harate, MPH itu, berisi tentang tidak terimanya mereka terhadap pernyataan yang dituliskan Saiful pada grup What App (WA) Parigita yakni grup yang beranggotan Satuan Kerja Perangat Daerah (SKPD) di daerah tersebut.

Dari tulisan itu, Saiful dinilai telah melakukan tindakan pencemaran nama baik terhadap rumah sakit tersebut dan dianggap telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan melalui media elektronik. Ia juga dinilai tidak tidak melakukan klarifikasi kepada rumah sakit terlebih dahulu atas tindakan medis yang dilakukan pihak RSUD.

“Saudara tanpa dasar dan tanpa pengetahuan medis, telah menyebar berita melalui berita elektronik yang tidak berdasarkan fakta sebenarnya yang dapat dipertanggungjawabkan,”demikian isi surat somasi itu.

Atas dasar tersebut, pihak rumah sakit meminta selama 3×24 jam, Saiful harus menghadap dan meminta maaf secara langsung kepada pihak RSUD melalui media elektronik dan media cetak. Mersucuar, sejak Senin-Selasa (14-15/8/2017) coba menghubungi dr Nurlaila via telepon belum juga memberikan konfirmasi balik.

Menanggapi hal itu, Saiful, Selasa (15/8/2017) mengaku telah melayangkan somasi balik kepada pihak RS Anuntaloko Parigi khususnya kepada dr Nurlaila sejak tanggal 15 Agustus 2017. Menurutnya somasi yang diberikan pihak RS tidak berdasar karena tidak seharusnya pihak rumah sakit mengeluarkan somasi tersebut sebagai pihak yang harus mempertanggungjawabkan persoalan itu.

“Justru sebaliknya pihak kamilah yang harus mengeluarkan somasi bukan mereka. Seharusnya ini jadi bahan evaluasi pihak RUSD Anuntaloko”ujar dia.

Dijelaskan Saiful, Grup WA Parigata itu adalah grup resmi Pemkab Parigi Moutong yang dibuat oleh Humas Setdakab Parimo yang tujuannya tidak lain sebagai sarana informasi kegiatan Pemda atau menyampaikann hal-hal lain terkait kinerja Pemda.

“RUSD Anuntaloko adalah salah satu institusi Pemkab Parimo yang mendapat kucuran dana dari Anggaran Pendapatan dana Belanja Daerah (APBD) dan mitra kerja DPRD Parimo. Apa saya salah mengadukan atau menyoroti kinerja RUSD tersebut?,” kesalnya.

Menurut Saiful tindakan tersebut sangat wajar dilakukan oleh masyarakat dengan menyoroti kinerja RUSD termaksud mencari tahu ada tidaknya dugaan korupsi di tempat itu, seperti masalah sampah medis dan lain-lain.

“Semua itu hak kami sebagai masyarakat Parimo dan Ibu Nurlaila harus ingat banyak masyarakat yang mengeluh dengan pelayanan RUSD Anuntaloko. Saya bawa kepentingan orang banyak untuk kebaikan bersama,”tandas dia.

Saiful menganggap, Nurlailah telah menuduh dirinya secara objektif karena Nurlaila tidak memakai kata “dugaan” telah melakukan pencemaran nama baik RSUD.

“Lain halnya yang saya tulis di grup WA Parigata. Saya sadar hal ini masih subyektif, makannya saya pakai “dugaan” mala praktek. Dalam waktu 3×24 jam somasi saya tidak ditanggapi, terpaksa saya tempuh jalur hukum,”ungkap Saifu.

Dalam pemberitaan media massa sebelumnya, RSUD Anuntaloko Parigi Moutong didemo puluhan massa yang terdiri dari keluarga korban atas dugaan mala praktek saat melakuan operasi pengangkatan Rahim hingga menyebabkan Wati Sriwahyuni (29) meregang nyawa warga Desa Lemo, Kecamatan Ampibabo. INT

Harian Mercusuar

View all posts

Latest videos