TONDO, MERCUSUAR – Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2017, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Prof Mohammad Nasir mengatakan, perguruan tinggi (PT) harus mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Perguruan tinggi telah lama mendapatkan kritikan dari dunia kerja dan industri, bahwa lulusan perguruan tinggi tidak memiliki keterampilan, sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.

Dalam UU nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, telah diamanatkan 3 jenis pendidikan tinggi untuk dilaksanakan di Indonesia, yaitu pendidikan tinggi akademik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, perguruan tinggi vokasi untuk mengembangkan keterampilan, dan perguruan tinggi profesi untuk mengembangkan keahlian khusus.

“Sekarang ini hanya enam persen perguruan tinggi kita adalah vokasi dalam bidang Science, Technology, Engineering dan Mathematic (STEM). Selain itu, peran industri dalam melaksanakan pendidikan vokasi masih sangat minimal. Untuk lebih meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan industri, ke depan, jumlah perguruan tinggi vokasi harus ditingkatkan dan keterlibatan industri harus diintensifkan,” ujar Rektor Untad, Prof Muh Basir, yang membacakan sambutan Menristek Dikti, Prof Muhammad Nasir pada upacara Hardiknas di lapangan Untad, Selasa (2/5/2017).

Rektor mengatakan, lulusan perguruan tinggi vokasi harus memiliki sertifikat kompetensi disamping ijazah. Untuk itu Kementerian Ristekdikti telah mencanangkan program revitalisasi pendidikan vokasi. Pada tahap awal ada 12 politeknik negeri dan 1 politeknik kesehatan yang mengikuti program revitalisasi ini.

Revitalisasi mencakup pembangunan kompetensi, restrukturisasi program keahlian dan kurikulum sesuai kebutuhan industri, dan pembangunan infrastuktur fasilitasi industri untuk praktik kerja atau pemagangan bagi mahasiswa dan dosen.

Tujuannya jelas, yaitu untuk mengembangkan pendidikan vokasi yang link and match dengan industri. Dengan adanya revitalisasi pendidikan tinggi vokasi ini diharapkan politeknik dapat menghasilkan tenaga kerja profesional dan dapat mendukung 14 kawasan ekonomi khusus (KEK) dan pusat-pusat pertumbuhan di seluruh Indonesia.

Selain itu, dari pengembangan pendidikan vokasi ini juga diharapkan dapat menjawab tantangan persaingan pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), terutama pada sektor kesehatan, pariwisata, jasa logistik, jasa online, jasa angkutan udara, produk berbasis agro, barang elektronik, perikanan, produk berbasis karet, tekstil dan pakaian, otomotif, dan produk berbasis kayu. JEF

Harian Mercusuar

View all posts