PALU, MERCUSUAR – Pertumbuhan ekonomi di Sulteng  menunjukkan tren kenaikan, bahkan pada 2017 diproyeksikan mengalami peningkatan mencapai 12 persen.

Hal tersebut ditopang oleh industri manufaktur dan sektor pertambangan yang menjadi sumber utama. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi tersebut tidak berkualitas, karena tidak dibarengi dengan penurunan angka kemiskinan.

Hal ini diungkapkan Staf Ahli Gubernur Sulteng bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesra Rusdi Bachtiar Rioeh saat menyampaikan sambutan Gubernur Sulteng, H Longki Djanggola pada sosialisasi usaha pengembangan tanaman jagung terintegrasi dengan pedagang jagung pipil yang digelar PT Pembangunan Sulteng dengan PT  Karya Teknik Indonesia Jakarta (Kartindo), di Palu Golden Hotel, Selasa (1/8/2017).

Menurut dia, potensi Sumber Daya Alam (SDM) di Sulteng cukup besar. Apa yang dilakukan oleh PT Pembangunan Sulteng bekerjasama dengan perusahaan luar Sulteng untuk mengembangkan potensi di sektor pertanian tanaman jagung sangat baik, mengingat Sulteng memiliki wilayah pengembangan jagung seperti di Kabupaten Sigi dan Tojo Una-una.

 Gubernur dalam sambutannya yang dibacakan oleh Rusdi mengakui jika selama bertahun-tahun Perusahaan Daerah (Perusda) belum memperlihatkan hasil yang baik. Namun setelah pengurus baru dilantik pada 28 Desember 2016 dan berganti nama menjadi PT Pembangunan Sulteng, perusahaan milik pemerintah tersebut sudah mulai menunjukkan kinerjanya.

“Ini merupakan tonggak awal PT Pembangunan Sulteng untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan Sulteng,” kata Gubernur dalam sambutannya. TIN

Harian Mercusuar

View all posts