• Yang Melayani Pembeli Pakai Jerigen

PALU, MERCUSUAR  – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Palu, meminta PT. Pertamina (Persero) menindaklanjuti dugaan penimbunan BBM jenis premium non-subsidi yang melibatkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kelurahan Petobo, Palu Selatan.

“Saya kira ini perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah, Pertamina, terlebih pihak penegak hukum terkait dugaan penimbunan BMM ini,” kata Anggota Komisi B DPRD Palu, Ridwan H Basatu, di Palu Rabu (11/10).
Dugaan penimbunan BBM premium ini diketahui setelah tim Satgas K5 (Kebersihan, Keindahan, Keamanan, Ketertiban dan Kenyamanan) Kelurahan Petobo, Selasa (10/10) malam sekitar pukul 22:00 Wita menggerebek SPBU di Jalan Dewi Sartika.
Dari hasil penggerbekan itu, ditemukan 20 buah jerigen ukuran 35 liter kosong siap diisi BBM jenis premium.
Ridwan mengatakan, pihak berwenang perlu menindaklanjuti kasus itu, bahkan hingga ke ranah hukum. Sebab, SPBU yang berada di Jalan Dewi Sartika itu sebelumnya pernah terjerat kasus yang sama, yang mengakibatkan satu karyawannya harus berhadapan dengan hukum.
Menurut dia, pihak SPBU ini belum jera meskipun pernah tersandung kasus penimbunan BBM. Olehnya, pihak SPBU harus bertanggung jawab atas hal ini.
“Kegiatan penimbunan ini tidak mungkin tidak diketahui pemilik atau managernya, karena kegiatan ini kedapatan di tempat, sehingga kasus ini perlu ditangani secara serius,” kata politisi Partai Hanura itu.
Pertamina sebagai pihak penyedia BBM juga didesak agar segera melakukan upaya-upaya klarifikasi kegiatan dugaan penimbunan BBM non-subsidi itu.
Jika dalam penyelidikan terbukti melakukan penimbunan, maka pihak Pertamina harus tegas memberikan sanksi.
“Pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama pihak PT Pertamina secepatnya turun ke lapangan melakukan investigasi, jika benar terbukti maka kedua lembaga ini harus memberikan sanksi baik itu pembekuan izin ataupun pemberhentian sementara operasinya,” kata anggota legislatif dapil Palu Selatan ini.
Penimbunan BBM jenis premium ini dijual khusus untuk para pengecer. Selanjutnya dijual kembali di kios-kios. Setiap jerigen pihak SPBU memungut uang sebesar Rp10.000 dari pengecer sebagai pelicin.
Pihak Satgas K5 hari akan memanggil manager SPBU itu untuk dimintai keterangan terkait kegiatan dugaan penimbunan BBM.
Sementara, saat di konfirmasi menanggapi kasus tersebut, pihak Pertamina belum mau memberikan keterangan.

Berbahaya

Pengisian bahan bakar ke dalam jerigen dilarang dilakukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Larangan itu disebabkan karena jerigen terbuat dari bahan yang mudah terbakar.

Para petugas di SPBU selalu diberi peringatan untuk tidak melayani pembeli yang menggunakan jerigen.

Warga boleh saja membeli bahan bakar dan tidak langsung dimasukkan ke tanki kendaraannya. Namun, wadah yang digunakan untuk menampung bahan bakar itu harus berbahan yang tidak mudah mengantarkan listrik statis, seperti aluminium.

Itupun dengan catatan, bahan bakar yang dibeli memiliki kadar oktan tinggi, seperti pertamax, pertamax turbo, atau pertamina dex.

Belum lama ini diberitakan, sebuah kebakaran terjadi di salah satu SPBU Pertamina di Jalan Argo Raya, Ragamukti, Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Kebakaran diduga berawal dari percikan api yang berasal dari jerigen yang dibawa seorang pembeli.Area yang terbakar meliputi salah satu mesin pompa pengisi bahan bakar dan sebagian bangunan kantor SPBU.ANT/MAN

Harian Mercusuar

View all posts