CATATAN KONKERNAS PWI DI BENGKULU

 

JANGAN sampai media main perasaan dalam membuat perencanaan dan dibiarkan mati sendiri.  Sepotong pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hendry Ch Bangun dalam Konferensi Kerja Nasional  PWI se-Indonesia di Bengkulu, Sabtu (18/11/2017). Hendry menguraikan fakta-fakta tentang ‘perkelahian’ media versus digital di era saat ini.

Dalam forum tersebut, perwakilan Sulteng dihadiri oleh Ketua PWI, Mahmud Matangara SH MM.  Ketua Dewan Kehormatan Daerah PWI Sulteng, Tri Putra Toana yang berada di Bengkulu, juga menyempatkan waktu hadir.

Mahmud Matangara

Hendry menyebut, meskipun belum ada angka pasti, tetapi pendapatan media cetak di Indonesia mengalami penurunan rata-rata 40 persen pada tahun ini. Pendapatan yang tak sebesar pengeluaran itu melahirkan dampak serius: penundaan gaji yang melanda sejumlah majalah serta pemutusan hubungan kerja secara terbuka di sejumlah suratkabar. Media yang terkait grup besar pun mencoba bertahan meski ‘hidup segan mati tak mau’.

Hendry mengatakan ada dua langkah yang dilakukan media suratkabar untuk bertahan. Pertama,  membuat versi e-paper, di mana pendapatan diperoleh dari pelanggan berbayar. Kedua, membuat versi online dengan pendapatan dari iklan. Sementara itu, majalah atau tabloid sulit untuk bertahan karena tidak cocok dengan tututan audiens:  informasi gratis dan cepat tanpa perlu berlangganan.

Kunci sebenarnya agar media dapat bertahan di tengah persaingan dengan dunia digital adalah bekerja atas dasar pemahaman terhadap pasar. Studi Nielsen terbaru menyebut, 82 persen responden menganggap iklan pada suratkabar paling kredibel. Studi Michigan State University tahun 2016 seirama, yakni 60 persen orang membeli barang online setelah terlebih dahulu melihat iklannya di suratkabar. Sayangnya, saat ini terjadi ambivalensi. Perusahaan media kadang kala kurang mempromosikan daya dorong iklan atas peningkatan penjualan. Akibatnya, tidak sedikit pemasang iklan yang beralih pada media online yang murah dan ramai, meski belum tentu efektif.

KONTRADIKSI

Sementara itu, Tri Putra Toana yang juga Pimpinan Tri Media Grup (TMG) menolak pesismistis terhadap industri media cetak di tanah air. Menurutnya, yang dibutuhkan perusahaan pers saat ini adalah langkah-langkah strategis dan perbaikan manajemen. “Selama peradaban dunia ini masih ada, pembaca tidak akan meninggalkan media cetak,” katanya. Tri Putra saat ini sedang mematangkan ekspansi di  sejumlah daerah di Sumatera. Pada Oktober tahun ini, Lampung menjadi daerah pertama yang ia garap. Dengan kelompok TMG, Tri Putra menghidupkan kembali ‘Haluan Lampung’ yang sebelumnya telah dua tahun  melayani rakyat Lampung dan sekitarnya.

Mahmud Matangara yang juga Dewan Manajemen TMG, mengibaratkan ekpansi TMG dari Sulawesi ke Sumatera  didasari nyali yang kuat dilandasi ikhtiar, seperti konsep jurnalis kenabian, ciri yang dikemukakan pimpinan TMG, Tri Putra Toana. “Seperti sebutan ‘Ayam Jantan dari Timur’,” singkatnya. Menurutnya, respons positif juga disampaikan masyarakat dan pekerja media terhadap ekspansi TMG di tanah Melayu. “Setelah saya telusuri dari beberapa kabupaten di Bengkulu dan Lampung, masyarakat sangat merespons. Bahkan sudah ada yang berniat bergabung setelah memahami konsep TMG,” tambahnya.

TMG merupakan induk dari sejumlah suratkabar yang berpusat di Palu. Setelah Mercusuar –terbit perdana 1 September 1962-2001, terbit kembali tahun 2006–  TMG menjadi payung dari media cetak di Sulawesi.  Di Sulteng, koran TMG adalah Harian Sulteng Raya, Kaili Post, Banggai Raya, dan Poso Raya. Sebelumnya terbit Rakyat Post yang melayani pembaca di Kabupaten Tolitoli dan Buol. Koran lain yang pernah digarap TMG adalah Gorontalo Raya dan Sulbar Raya.  Sementara itu, di Sumatera, TMG masuk melalui Lampung (Haluan Lampung) dan sejumlah provinsi di Tanah Melayu itu. DAR

 

 

Harian Mercusuar

View all posts