PALU, MERCUSUAR – Pencapaian prestasi karateka Sulawesi Tengah dengan mempersembahkan 1 medali perak dan 2 medali perunggu di arena PON XIX Jawa Barat, ternyata tidak dihargai pihak KONI Sulawesi Tengah. Yang menyakitkan, bahkan dianggap bermain mata.

Hal itu dikemukakan Manager Karate yang juga Sekretaris Umum FORKI Sulawesi Tengah, Erick Tamalagi, di Palu, Kamis (29/9). Erick menanggapi pemberitaan Mercusuar edisi 21 September lalu.

Menurutnya, dalam pemberitaan Mercusuar itu, perjuangan karateka Alan Nuary yang kalah di final kelas -55 kg kumite putera, oleh Ketua KONI Sulawesi Tengah dianggap akibat bermain mata.

Menurutnya, wawancara yang termuat dalam edisi saat itu selengkapnya: Saat dihubungi wartawan media ini Anwar menduga ada permainan terkait dengan kekalahan karateka Alan Nuari, karateka asal Banggai.

Kita baru merebut 2 medali perak dan 2 perunggu tapi seharusnya di cabor karate mengharapkan mendapat emas. Kenapa saya katakan harus emas, karena lawan-lawannya sebelumnya dia sikat 5 sampai 6 nol. Masa di final biar satu tendangan dan pukulan tidak masuk.

Ada apa sebenarnya, koq atlet dilarang nendang dan mukul?  Ada apa sebenarnya, hanya Tuhan yang tahu. Mudah-mudahan tidak ada udang di balik batu.

“Pernyataan ini bagi kami FORKI Sulawesi Tengah adalah pernyataan yang mencerminkan ketidakmengertian Ketua KONI akan perjuangan karateka Sulawesi Tengah di arena PON XIX,” kata Erick.

Menurutnya, Alan untuk sampai di final harus berjuang keras mengalahkan karateka Jawa Barat dan DKI Jakarta, 3-2, dua kemenangan dramatis karena didapatkan Alan pada 3 detik terakhir. Di final Alan harus mengakui keunggulan karateka Sumatera Utara 6-0.

Seandainya Ketua KONI datang langsung ke GOR Sabuga ITB, baru tahu bagaimana perjuangan kami menghadapi banyaknya tekanan termasuk dari suporter. Alan yang kecolongan wazaari (2 point) di detik-detik awal pertandingan berupaya mengejar ketinggalan pointnya dengan segala kemampuan.

Pelatih Kristo yang berulang kali menginstruksikan mengeluarkan semua kemampuan Alan juga tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna karena karateka Sumatera Utara mampu memotong serangan Alan maupun menjaga ritme pertandingan dengan melakukan serangan kontra setiap diserang.

Dalam posisi seperti ini Alan kembali kecolongan wazaari karena memaksakan diri mengejar ketinggalan,” jelas Erick Tamalagi.

Menurutnya, KONI seharusnye berterimakasih kepada FORKI Sulawesi Tengah yang melakukan pelatda mandiri sejak bulan Januari.

“Bahkan untuk melakukan try out ke sejumlah daerah sampai ke luar negeri menggunakan dana sendiri, termasuk dalam suplai vitamin berasal dari kantong sendiri karena vitamin yang disiapkan selama pelatda PON daerah, kami anggap tidak akan mampu menjaga kondisi karateka untuk porsi latihan dan pertandingan sebenarnya,” tuturnya.

Pernyataan ini juga membuat karateka kami dibunuh karakternya. Siapa yang tidak ingin mempersembahkan yang terbak buat Sulawsi Tengah.

“Apalagi prestasi di PON menjadi salah satu catatan PB FORKI dalam menjaring atlit bagi pertandingan-pertandingan membawa nama Indonesia,” kata Erick Tamalagi.

Atas pernyataan Ketua KONI Sulawesi Tengah, kami meminta klarifikasi Ketua KONI dan meminta maaf kepada masyarakat karate Sulwesi Tengah. “Jika tidak, kami akan melakukan tindakan hukum atas pernyataannya,” tambah Erick Tamalagi.MAN

Harian Mercusuar

View all posts