TALISE, MERCUSUAR – 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi dan Makanan secara nasional. Momentum hari gizi ini, harus dijadikan sebagai sarana untuk melihat dan mengevaluasi sejauhmana asupan gizi dan makanan masyarakat Indonesia.

Berbagai penyakit yang timbul akibat kurangnya asupan gizi memang masih terlihat jelas di depan mata. Karena itu, seluruh komponen masyarakat harus terlibat secara menyeluruh menyelesaikan berbagai masalah gizi.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah (Unismuh ) Palu, Jamaluddin Sakung, mengatakan, untuk perbaikan gizi tidak tepat jika hanya diserahkan kepada pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan semata.

Jamaluddin menyebutkan, salah satu instansi pemerintah yang juga harus turut serta memperhatikan masalah gizi adalah dinas sosial. Perbaikan gizi masyarakat bisa melalui pemberian bantuan kepada masyarakat miskin.

“Bagaimana pemenuhan kebutuhan makanan kepada masyarakat yang miskin. Tentu dunia usaha membantu juga, bagaimana masyarakat itu dapat mengakses makanan yang bermutu. Tentu yang terjangkau juga,” jelas Jamaludin.

Dia mengatakan, dalam mengkonsumsi makanan instan, masyarakat juga tidak boleh melupakan kandungan gizi yang terkandung di dalam makanan siap saji itu.

“Makanan siap saji itu bukan tidak bisa kita konsumsi, tapi harus kita pastikan cara produksinya berkualitas atau tidak?,” ujarnya.

Dia menjelaskan, makanan yang baik dikonsumsi jangan hanya dilihat dari segi enaknya saja, sementara kandungan gizinya sudah tidak ada.

“Lama penyimpanan itu juga bisa merusak zat gizi yang ada di dalam makanan. Makanya ini juga harus diperhatikan para konsumen,” jelasnya.

Pihaknya berharap, melalui momentum peringatan hari gizi dan makanan, penyakit akibat kekurangan gizi dan makanan bisa berkurang dan masyarakat semakin sehat. UTM

Harian Mercusuar

View all posts