TOLITOLI, MERCUSUAR– Larangan makan nasi setiap Senin, yang dilontarkan Bupati Tolitoli Mohammad Saleh Bantilan beberapa waktu lalu,  mendapat tanggapan beragam dari warga Tolitoli.

Irma salah seorang warga Kelurahan Baru yang berprofesi sebagai pedagang di salah satu pasar di Tolitoli mengatakan, larangan makan nasi setiap Senin, tidak semua warga dapat menjalankannya karena kebiasaan makan nasi tidak bisa diubah serta merta.

“Larangan itu seharusnya dilihat kembali dampak apa yang akan terjadi pada masyarakat, seperti saya ini yang menderita penyakit maag, sehingga kalau dilarang makan nasi pada senin sangat tidak mungkin, bisa-bisa penyakit maag saya akan kumat dan akan tambah parah,” ungkapnya, Selasa  (18/10/2016).

Dia menilai,  program larangan makan nasi yang  akan diterapkan di masyarakat Tolitoli, tidak akan berjalan dengan maksimal, karena tidak mungkin semua warga di Tolitoli dapat dipantau oleh pemerintah dalam aktifitas kesehariannya di rumah masing-masing.

Terkecuali kata Irma, program larangan makan nasi pada senin, diubah menjadi program kurangi porsi konsumsi nasi pada senin namun yang diperbanyak umbi-umbian dan jagung serta sagu. Karena, jika diterapkan secara langsung, program itu tidak akan berjalan dengan maksimal.

“Program itu seharusnya dilakukan secara bertahap di antaranya pengurangan porsi makan nasi pada tiap senin dan perbanyak makan pangan non beras, sehingga program yang ada dapat diterima dengan baik di kalangan masyarakat,” katanya.

Dia menambahkan, program pemerintah memperkenalkan pangan non beras pada masyarakat sangat bagus, selain menghindari penyakit diabetes juga sebagai penghematan terhadap makanan yang bersumber dari beras.

“Kan, makanan non beras juga sudah digemari oleh masyarakat seperti ambal yang terbuat dari sagu, jagung dan umbi-umbian, hanya saja tidak rutin dilakukan,” tuturnya. RP

Komentar

komentar

Harian Mercusuar

Lihat semua tulisan