PARIGI, MERCUSUAR – Rencana Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong untuk membangun jalan alternatif Petapa-Toboli Barat batal. Ini lantaran tak tercapai kata sepakat soal harga tanah yang akan dibebaskan.

Warga menolak harga tanah yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Bagian Pemerintah Umum sebesar Rp15 ribu-Rp20 ribu per meter. Warga menginginkan ganti rugi sebesar Rp55 ribu permeter.

“Karena tak tercapai kata sepakat, pemerintah daerah akhirnya membatalkan pembangunan jalan itu,” jelas Kabag Humas Setda Parigi Moutong, Syamsu Nadjamuddin, Jumat (28/10).

Dengan batalnya rencana pembangunan jalan Petapa Toboli itu, kata Syamsu, maka bantuan dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp5 miliar yang akan digunakan untuk kepentingan pembangun jalan tersebut bakal dikembalikan ke pemerintah pusat.

“Sangat disayangkan tentunya, bantuan pusat senilai Rp5 miliar itu harus kita kembalikan,” sebut dia.

Menurutnya, warga pemilik lahan di jalan yang akan dirintis itu tidak seharusnya mematok harga tanah sebesar Rp 55 ribu sama dengan tapak Sail Tomini. Lokasi Sail Tomini berhadapan langsung dengan jalan trans Sulawesi, sehingga wajar jika harganya relatif lebih tinggi.

“Jalan Petapa – Toboli Barat ini baru mau dirintis, sehingga tidak wajar kalau harga tanah disitu disamakan dengan lokasi Sail Tomini. Nanti kalau akses jalan ini sudah tembus, maka secara otomatis harga tanah disitu akan naik,”ujar Syamsu.

Pembangunan jalan Petapa-Toboli sejauh 9,5 km itu, merupakan jalur alternatif untuk mengurai kemacetan di Jalan Trans-Sulawesi yang kerap terjadi saat pelaksanaan event nasional di eks lokasi Sail Tomini.

“Kalau jalan Petapa-Toboli ini berhasil dibuka, maka kita akan memiliki jalur alternatif,” kata Syamsu.

Sekedar diketahui, pemilik tanah yang akan dilalui untuk pembangunan jalan itu berjumlah 157 orang. Di atas lahan mereka terdapat perkebunan produktif seperti sawah dan perkebunan kakao termasuk 7 kuburan.SE

Harian Mercusuar

View all posts