PALU, MERCUSUAR – Sejumlah murid Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Fahmi Palu mengeluhkan sanksi yang diberikan salah satu oknum guru mengenai larangan bermain selama sebulan penuh.

Dengan sanksi tersebut sejumlah murid terpaksa hanya bisa berdiam di dalam kelas setiap waktu istirahat. Sebab mereka juga diancam, jika mereka kedapatan bermain pada saat jam istirahat maka sanksi tersebut akan ditambah menjadi dua bulan.

Karenanya, murid mengeluh kepada orangtua mereka masing – masing untuk tidak mau sekolah karena tidak bisa lagi bermain bersama murid lainnya di sekolah.

Salah satu murid SDIT Al-Fahmi Palu berinisial AH mengatakan, bersama tiga temannya diberikan sanksi oleh guru untuk tidak bisa bermain selama sebulan penuh.

“Kami juga heran mengapa sanksi tersebut diberikan oleh guru padahal kami masih ingin bermain bersama teman lainnya pada saat istirahat. Kami juga tidak mengetahui pelanggaran apa yang kami lakukan ketika guru memberikan sanksi tersebut kepada kami. Itu juga membuat kami malas untuk datang ke sekolah karena adanya sanksi larangan bermain,” kata mereka, Rabu (2/11/2016).

Sanksi itu sebenarnya tidak memberikan pelajaran kepada para murid dalam hal apapun, sebab anak sesusia mereka masih senang belajar dan bermain. Jika mereka dilarang untuk bermain maka mereka juga akan enggan pergi ke sekolah.

Sebab masih kecil pihak sekolah sudah membatasi bermain mereka. Sementara proses pembelajaran di sekolah itu hingga sore hari karena mereka menerapkan full day school.

Maka tidak mungkin para siswa hanya bisa menghabiskan waktu seharian untuk belajar dan belajar tanpa dibarengi dengan bermain pada waktu istirahat. Padahal SDIT Al-Fahmi Palu merupakan salah satu SD yang memiliki tarif pembayaran cukup mahal yaitu Rp 420 ribu per bulan. Dengan pembayaran mahal tersebut mereka tidak bisa memberikan yang terbaik untuk mendidik seluruh murid di sekolah.

Sementara itu, salah satu oknum Guru SDIT Al-Fahmi Palu berinisial AN yang telah memberikan sanksi larangan bermain sebulan kepada sejumlah murid mengaku larangan tersebut untuk memberikan efek jera kepada murid agar tidak malas mengikuti pelajaran.

“Sebelumnya kami mendengar dari guru bahwa sejumlah murid ini lambat masuk pelajaran Sport karena mereka masih bermain di dalam kelas. Maka saya langsung memberikan sanksi untuk tidak boleh bermain selama sebulan. Itu saya lakukan agar bisa mengurangi bermain para murid pada saat memulai pelajaran,” terangnya.

Ia menambahkan ada tiga murid yang diberikan sanksi larangan bermain selama sebulan, jadi selama mengikuti pelajaran di sekolah bermain mereka akan dihentikan. Mereka hanya difokuskan untuk belajar baik di kelas maupun di perpustakaan.

Sementara itu saat kasus tersebut dikonfirmasih dengan Kepala Sekolah (Kepsek) belum memberikan jawaban, sebab sulit ditemui. Sebelumnya Kepsek ada di kantor tetapi pada pukul 13.00 hanya tidur dan staf tatausaha juga tidak berani untuk membangunkannya. Pada hari kedua Kepsek sudah tidak bisa dijumpai karena ada urusan di luar sekolah.UTM

Harian Mercusuar

View all posts