PALU, MERCUSUAR – Idul Fitri merupakan momentum untuk saling memaafkan setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan.

“Hari ini kita bagaikan bayi yang baru lahir di dunia, suci tanpa dosa. Olehnya, saling memaafkan adalah jalan yang terbaik menuju kebaikan,” kata  Wakil Rektor Institut Agama Islam Negeri Palu Azma M Mardjun dalam khutbah Idul Fitri di halaman Masjid Agung Darussalam Palu, Minggu (25/6/2017).  Salat Id di sini dihadiri Gubernur Sulteng Longki Djanggola dan para pejabat daerah.  Hal serupa dikatakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulteng, H Abdullah Latopada saat melaksanakan halal bihalal di kediamannya, Jalan Samudra III, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Selasa (27/6/2017). Menurutnya,   saling memberi maaf di hari Lebaran merupakan syarat agar seluruh perbuatan yang telah dilakukan pada hari-hari Ramadan diterima oleh Allah subhanahu wa taala. “Yang lebih utama adalah memberi maaf,” katanya. Ia pun berharap, seluruh kebaikan dari bulan Ramadan menjadi motivasi ummat untuk berbuat di bulan-bulan berikutnya sampai datang Ramadan tahun depan.

KESEIMBANGAN
Adapun Khatib Salat Id di Lapangan PT Telkom Palu,  Prof Dr Sagaf Pettalongi mengatakan puasa membuat diri manusia memiliki keseimbangan dalam berbagai sisi kehidupan.
“Karena itu beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan mengingat Allah lalu melaksanakan salat pada hari Idul Fitri,” katanya.
Keseimbangan pertama yang akan diperoleh, kata Prof Sagaf, adalah keseimbangan jasmani dan rohani. Sedangkan keseimbangan kedua adalah keseimbangan dalam pandangan hidup ke depan. Dalam kehidupan ini, katanya, kehidupan rohani harus lebih dominan dari jasmani, seperti kecerdasan, kejujuran, dan tanggung jawab karena itulah yang memberi nilai sosial yang tinggi pada kehidupan. ANT/DAR

Harian Mercusuar

View all posts