Laporan: Jefrianto (Wartawan Mercusuar) 

Siapa sangka, di balik keindahan alamnya yang eksotis, Danau Poso ternyata memiliki keunikan lainnya, yang mampu menarik perhatian peneliti asing untuk melakukan riset terhadap danau terdalam ketiga di Indonesia ini. Kehadiran danau tektonik seluas 323,2 km2 dan memilki kedalaman 450 m ini, juga ternyata memiliki peran besar dalam upaya para ilmuwan memprediksi perubahan iklim di dunia.

Peneliti Windsor University Canada yang juga Presiden Danau Dunia, Prof G.D. Haffner, bersama curator dan ilmuwan Canada Museum of Nature, Paul B. Hamilton, adalah dua peneliti asing yang berkesempatan melakukan riset di danau tektonik yang merupakan danau terluas ketiga di Indonesia ini. Keduanya melakukan riset terkait keanekaragaman hayati yang melimpah di danau purba ini, serta potensinya sebagai salah satu cadangan air dunia, berkolaborasi dengan International Office Universitas Tadulako (UNTAD), yang menghadirkan Dr. Ir. Jusri Nilawati dan Dr. Ir. Fadly Y Tantu dalam penelitian tersebut. Selain itu, riset ini juga dilakukan untuk memprediksi perubahan iklim dunia di masa mendatang.

Dalam wawancara khusus bersama wartawan Mercusuar, Jefrianto, Kamis (19/1/2017), Prof. G.D. Haffner mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan awalnya selama hampir seminggu di Danau Poso, dirinya berasumsi bahwa danau tektonik yang satu ini, terbentuk sekitar 1-2 juta tahun yang lalu, akibat pergeseran lempeng tektonik. Menurutnya, hal ini dapat dilihat dari keanekaragaman hayati di danau tersebut, berupa spesies keong dan zooplankton yang dapat menjadi gambaran kasar untuk memprediksi usia danau purba tersebut.

Menurut Prof, G.D. Haffner, untuk mengetahui usia danau ini secara pasti, perlu dilakukan pemeriksaan sedimen dasar danau, seperti yang dilakukan pada Danau Towuti, yang terletak di Kabipaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Seperti dilansir CNN Indonesia pada Januari 2015 lalu, sekelompok peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Brown University, Amerika Serikat, melakukan penelitian pemeriksaan sedimen dasar di Danau Towuti. Hasilnya, danau ini diklaim punya lapisan sedimen yang lebih tebal dari danau lain. Penelitian itu sendiri dilakukan untuk mengetahui iklim di zaman purba dan perubahannya, sehingga perubahan iklim di masa mendatang dapat diprediksi dengan lebih tepat.

Prof G.D. Haffner juga menyebut adanya kemiripan morfologi antara Danau Poso dan Danau Towuti, serta Danau Matano di Provinsi Sulawesi Selatan, yang diperkirakan merupakan danau purba yang tertua di Indonesia. Namun menurutnya, danau yang memliki tingkat kemiripan morfologi yang cenderung sama dengan Danau Poso adalah Danau Titicaca di Peru, Amerika Selatan, yang merupakan danau tertinggi di dunia, dengan ketinggian 3821 mdpl, serta merupakan danau terbesar kedua di Amerika Selatan.

Ilmuwan Canada Museum of Nature, Paul B Hamilton, yang meneliti keanekaragaman diatom di Danau Poso menjelaskan, diatom memegang peranan penting dalam proses terbentuknya danau purba serta pembentukan biodiversitas di dalamnya. Menurutnya, diatom yang merupakan suatu kelompok besar dari alga plankton, dapat dijadikan indikator kondisi lingkungan danau.

Menurut hasil pengamatannya terhadap diato di Danau Poso, kualitas air di danau tersebut masih tergolong bagus, sesuai dengan diversity diatom yang didapatkannya. Kata Paul, dirinya masih mendapati spesies diatom yang sama dengan yang hidup di danau tersebut pada kurun waktu 100-200 tahun yang lalu. Namun menurutnya, perubahan iklim dan lingkungan, dapat memicu perubahan diatom yang ada di Danau Poso.

Terkait manfaat dari riset ini sendiri, baik Prof G.D. Haffner maupun Paul B Hamilton bersepakat, penelitian danau purba ini berhubungan dengan pemanfaatan dan kelanjutan kehidupan manusia, Danau Poso menurut mereka, bisa menjadi model untuk mengamati sekaligus memprediksi perubahan iklim di dunia dengan lebih tepat. Menurut Prof G.D. Haffner, perubahan suhu dan iklim di daerah tropis seperti Indonesia, berdampak besar bagi perubahan iklim dunia.

Dari pihak UNTAD, Dr. Ir. Fadly Y Tantu, yang turut dalam penelitian tersebut mengatakan, kerjasama kolaborasi penelitian danau purba ini, merupakan awal yang baik bagi UNTAD untuk melakukan kedepan terus meningkatkan kerjasama, tidak hanya di bidang penelitian, namun juga di bidang peningkatan sumber daya manusia, seperti pertukaran mahasiswa atau staff. Menurutnya, kerjasama penelitian ini merupakan awal kolaborasi antara UNTAD dan Windsor University Canada kedepannya.

Harian Mercusuar

View all posts