* Dugaan Malapraktik di Parmout

 

PALU, MERCUSUAR – Kasus dugaan malapraktik yang menimpa keluarga Alm. Wati Sri Wahyuni warga Desa Lemo, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, hingga sekarang belum menunjukan titik terang.

Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) menilai kinerja Pemkab Parigi Moutong (Parmout) perlu dipertanyakan.

“Dinas Kesehatan Parmout harusnya turun tangan membantu masyarakat. Harus terbuka jangan ditutup-tutupi,” kata Pendamping Hukum KPPA Sulteng, Hermawan, Senin (23/10/2017).

Selain itu, tambahnya, kinerja Kepolisian Resort Parmout juga dipertanyakan sebab menurut keluarga korban, laporan terhadap kasus itu sudah cukup lama tertanggal 4 Agustus 2017, namun hingga sekarang belum ada informasi dari pihak Polres mengenai kasus itu.

“Sangat ganjil Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) belum ada disampaikan oleh penyidik kepada keluarga korban bahwa yang diduga melakukan mala praktek sudah diperiksa,”ujar Hermawan.

SP2HP wajib diberikan agar masyarakat tidak bertanya-tanya sampai dimana perkembangan kasus itu.

Sedangkan Direktur KPPA Sulteng, Andriani, menganggap tindakan dokter RS. Anuntaloko Parigi sangat lamban dalam menangani kasus Alm. Wati. Seharusnya pihak RS tidak membiarkan hal itu terjadi. Persoalan tersebut harusnya menjadi perhatian pihak RS dan Pemkab Parmout agar kasus tidak lagi terulang.

“Itu sama saja proses pembiaran. Ibu hamil dibiarkan menunggu sampai berapa hari untuk ditangani padahal kondisi ibu sudah pendarahan hebat,”tuturnya.

Sama halnya dengan Hermawan, Andriani menyesalkan tindakan pihak kepolisian yang terkesan mengulur-ngulur waktu, padahal persoalan itu menyangkut nyawa manusia. Ia khawatir apabila kasus itu terus didiamkan, masyarakat akan marah dan terjadi hal-hal yang tidak inginkan.

“Jangan sampai menunggu reaksi masyarakat lalu bertindak. Padahal kepolisian adalah pelayan masyarakat,” jelasnya.

Pendamping Hukum korban, Saiful SH mengamini pernyataan KPPA Sulteng. Menurutnya dalam beberapa pertemuan dengan pihak Polres dan Pemkab kedua belah pihak terkesan mendiamkannya. Mereka hanya mengeluarkan janji-janji untuk menyelesaikan kasus itu. Namun tidak terlaksana sampai sekarang.

“Saat ini masyarakat dan keluarga korban marah. Yang dijaga jangan sampai sampai mereka main hakim sendiri,” bebernya.

Sekadar diketahui, Alm. Wati Sri Wahyuni (22) menghembuskan nafas terakhir di RS. Anuntaloko usai menjalani operasi kedua pasca melahirkan dengan rentan waktu diantaranya sekitar satu jam tanggal 2 Agustus 2017. Kematiannya membuat pihak keluarga bertanya-tanya sebab banyak keganjilan terhadap kematiannya. INT

 

 

 

Harian Mercusuar

View all posts