POSO, MERCUSUAR  – Gempa berkekuatan 6,6 skala richter yang menggucang warga di Poso tak hanya membuat rumah-rumah warga, rumah ibadah, kantor hingga sekolah roboh.  Bahkan sejumlah warga harus dirawat karena mengalami luka ringan dan luka berat. Empat hari pasca gempa terjadi, kini warga yang tinggal di tenda darurat akibat gempa di wilayah Wuasa, Kecamatan Lore Timur mulai terserang penyakit.

Para warga korban gempa yang berada di empat Desa, yakni Desa Sedoa, Alitupu, Wuasa dan Desa Watumaeta, Kecamatan Lore Timur, sejak Kamis (01/06/2017) melakukan pemeriksaan kesehatan di posko yang didirikan di lokasi bencana.

Mereka yang datang memeriksa kesehatan itu, kebanyakan warga dewasa dan anak anak yang terkena penyakit flu, diare serta batuk.

Menurut warga Apnius,  ia datang memeriksa kesehatannya karena sudah beberapa hari sejak gempa terjadi ia kurang tidur dan kurang istirahat, sehingga kondisi inilah yang membuat dirinya terserang batu dan influenza.

“Sudah beberapa malam ini saya tidak tidur dan terkena batuk serta influenza dan juga saya kurang istirahat,” ungkapnya.

Sementara itu Sobert Abu petugas posko kesehatan menuturkan, jika dari data pihak posko kesehatan yang berada di lokasi gempa, rata-rata warga terserang penyakit diare dan batuk.

Kata Sober Abu, penyakit dikarenakan warga hanya menempati tenda darurat, padahal kondisi suhu di Lembah Napu udara lembab dan dingin. Kurangnya air bersih salah satu penyebab warga mulai terserang penyakit.

“Banyak mengeluh batuk dan panas karena mungkin tidur di luar, kalau orang tua banyak batuk dan kecapean. Di wilayah Sedoa sangat lembab dan kekurangan air bersih ini yang membuat warga terserang penyakit,” jelas petugas posko kesehatan.

Saat ini posko kesehatan yang berada di lokasi gempa, akan disiagakan hingga satu minggu kedepan, dengan stok obat beberapa hari kedepan bisa dapat terpenuhi.

“Kami petugas posko kesehatan berharap agar bisa dapat dukungan obat obatan lainnya,” tandasnya.  ULY

Harian Mercusuar

View all posts