PALU, MERCUSUAR  – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng menyatakan kenaikan tarif listrik untuk rumah tangga 900 VA nonsubsidi menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Palu pada April. Inflasi tercatat sebesar 0,46 persen.

“Kami sudah mencatat sejak tiga bulan terakhir tingkat inflasi dipengaruhi kenaikan tarif listrik karena merupakan kebutuhan yang banyak dipakai masyarakat. Itu sudah menjadi hal yang lumrah setiap kebutuhan yang banyak digunakan masyarakat dan terjadi kenaikan dipastikan akan terjadi inflasi,” kata Kepala BPS Perwakilan Sulteng, Faizal saat konferensi pers di kantornya, Kelurahan  Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Selasa (2/5/2017).

Pihaknya mengakui kenaikan tarif listrik bukan domain Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang berhasil meredam kenaikan bahan pokok beberapa waktu lalu.  “Kenaikan tarif listrik memang tidak bisa dikendalikan TPID tetapi melalui kebijakan pemerintah. Tapi data ini menjadi acuan bagi pemerintah dalam melihat situasi yang berkembang di masyarakat,” imbuhnya.

Tingkat inflasi sepanjang April ini merupakan tertinggi sepanjang tiga tahun terakhir dan Kota Palu menduduki peringkat ke-4 dengan inflasi tertinggi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dia memprediksi tingkat inflasi menjelang Ramadan akan bergerak naik seiring dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang biasa terjadi setiap tahun. Hal itu membuat pihaknya berharap agar TPID mampu meredam kenaikan harga sembako jelang Ramadan dan Lebaran. “Kenaikan inflasinya tidak lebih dari satu digit,” pungkasnya. HAI

Komentar

komentar

Harian Mercusuar

Lihat semua tulisan