PALU, MERCUSUAR – Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, sudah empat kali  kasus pembuangan bayi terjadi di Palu. Dari kasus itu, belum ada kasus yang berhasil diungkap oleh pihak kepolisian. Polisi menduga, mereka yang tinggal kos-kosan atau rumah kontrakan menjadi pelaku pembuangan bayi.

Dari beberapa pengembangan kasus, bayi yang dibuang merupakan hasil hubungan gelap dan aborsi. Data yang diperoleh, sepanjang bulan Desember 2016 hingga April 2017, sudah terjadi empat kasus pembuangan bayi. Ia merinci, Bulan Desember 2016 lalu, warga di Kelurahan Watusampu menemukan mayat  bayi yang dibungkus dalam kantong palstik.

Berselang sebulan, warga di Kelurahan Talise kembali menemukan orok bayi dipinggir pantai tepatnya  dibelakang Hotel Wina Beach pada  bulan Januari 2017.

Selanjutnya, Pada tanggal 22 Februari 2017, warga Pengawu  dihebohkan dengan temuan bayi lak-laki berada dikardus dalam kondisi hidup.

Pada bulan April 2017,  warga Besusu Barat menemukan mayat bayi  laki-laki dipinggir pantai Talise, Kelurahan Besusu barat, kecamatan Palu Timur pada  Senin, 17 April.

Berselang beberapa hari, kasus temuan bayi kembali terjadi di Jalan Adam Malik I Palu, Kelurahan Birobuli Selatan, Kecamatan Palu Selatan pada Rabu (19/4/2017).  Dimana bayi ditemukan dalam kondisi terkubur hidup – hidup.

Maraknya kasus penemuan bayi, membuat pihak kepolisian dalam waktu dekat akan melakukan razia ditempat-tempat yang dianggap rawan kasus prostitusi dan kejahatan lainnya.

Kapolres Palu, AKBP Christ R Pusung  mengatakan, kasus penemuan bayi mendapat perhatian khusus bagi aparat kepolisian. Pihaknya akan menindak tegas, pelaku yang tega membuang bayinya.

“Ini tidak boleh dibiarkan, kasus ini sudah sangat marak. Pembuangan bayi menjadi perhatian khusus bagi kepolisian,”kata Christ, Selasa (25/4/2017).

Menurutnya, banyak masyarakat termasuk kaum remaja masih dangkal terhadap pemahaman pendidikan seks. Seks bebas masih merajalela, sehingga banyak remaja yang hamil diluar nikah. Hal ini dapat memicu, pelaku untuk melakukan perbuatan tida terpuji seperti membuang bayinya, karena rasa malu.

Ia berharap, orang tua dan pihak terkait harus menggalakan sosialiasi tentang bahaya seks bebas.

“ Ini dimaksud untuk  memberikan pengetahuan pada anak tentang organ intim, bagaimana menjaganya, dan kapan baru boleh melakukan hubungan intim sangat penting,” jelas Kapolres. IKI

Harian Mercusuar

View all posts