PALU, MERCUSUAR – Baru tahun ini Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 19 Palu menerapkan K13. Diakui guru pengajar Pendidikan dan Kewarganegaraan (PKn), kurikulum tersebut sangat membantu dirinya memberikan pemahaman kepada seluruh siswa.

“Mengajar siswa terutama PKn butuh cara tersendiri karena anak-anak zaman sekarang lebih cerdas dibanding anak-anak sebelumnya,”terang Guru PKn SMPN 19 Palu, Alvina Lawasa, Rabu (31/5/2017).

Beruntung materi bahan ajar yang mereka miliki tergolong lengkap mulai dari buku untuk guru dan siswa sebagai panduan bahan ajar sebab dalam K13 guru dan siswa harus memiliki buku masing-masing. Sehingga selama pelajaran berlangsung selalu diselingin dengan sesi menganalisis isi gambar.

“Misalnya saya memperlihatkan mereka gambar orang-orang yang melakukan demonstrasi. Dalam buku K13 milik siswa akan ada pertanyaan-pertanyaan terhadap maksud gambar tersebut. Sehingga siswa akan mencari jawabannya sendiri kemudian dipaparkan di depan kelas,”terang dia.

Konsep tersebut mengajarkan siswa untuk berfikir analitis dan merepson suatu tindakan yang jarang sekali terlihat. Setelah pembahasan yang cukup alot maka para siswa akan masuk dalam kesimpulan tentang manfaat, tujuan dan etika berdemonstrasi yang benar.

“Jadi kami ada praktek demonstrasi untuk mengajarkan dan memperkenalkan kepada siswa bagaimana berdemonstrasi itu sampai alur-alurnya. Kenapa harus melapor kepada kepolisian dan sebagainya agar ketika mereka melihat di jalanan, mereka tidak bingung lagi atau bisa menilai demonstrasi yang baik itu seperti itu apa,”terang Alvina.

Dalam PKN juga diajarkan tentang kemanusiaan. Maka agar materi kemanusiaan itu berjalan dengan lancar dan siswa-siswi dapat memahami dengan baik, Alvina mengajak para siswanya tersebut mendatangi langsung Komisi Perlindungan Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM) Sulteng, untuk mengajak siswa menggali tentang kemanusiaan.

“Kami mengajarkan mereka untuk peduli kepada orang-orang tertindas, orang-orang miskin karena itu berkaitan tentang kemanusiaan dan saling gotong royong untuk meringankan beban orang yang menderita,”ujarnya.

Berkat hal itu, Alvina mengaku siswa-siswinya mudah memahami dengan baik karena mata pelajaran yang monoton dikemas menjadi menarik, sehingga siswa semakin terdorong untuk berperan aktif, sehingga waktu belajar selama tiga jam tidak terasa.

Dalam memberikan ajaran tentang PKn apalagi yang berkaitan dengan Pancasila, siswa-siswinya terkadang masih berbeda pendapat dengan apa yang diajarkan, apalagi yang berkaitan dengan agama.

“Misalnya soal jihad, anak-anak seusia mereka menganggap aksi pemboman adalah bagian dari jihad membela agama. Tetapi saya katakan kepada mereka, apapun agamanya tidak membernarkan kekerasan, justru agama mengajarkan kita kebaikan dan saling menyayangi,”terang dia.

Namun tantangan yang nyata menurut Alvina adalah setiap guru harus lebih pandai atau dapat menyesuaikan dengan siswa-siswi karena era perkembangan teknologi dan informasi yang cepat, memungkinan siswa lebih kritis.INT

Harian Mercusuar

View all posts

Latest videos