PALU, MERCUSUAR – Agenda reses atau jaring aspirasi masyarakat (Asmara) Anggota DPRD Sulteng Daerah Pemilihan (Dapil) Parigi Maoutong, I Nyoman Slamet di Kecamatan Sausu dan Torue, menghasilkan beberapa rekomendasi warga yang menjadi kebutuhan mereka.

Dari sekian banyak keluhan yang mereka sampaikan dalam reses itu, salah satu yang paling mendesak untuk segera ditindaklajuti yakni, perbaikan bendungan irigasi dan saluran yang menuju persawahan warga.

“Warga mengaku sangat kesulitan mendapatkan air, karena beberapa bendungan yang ada telah rusak akibat banjir. Karena itulah, warga sangat berharap kiranya pemerintah bisa membantu perbaikan bendungan agar sawah – sawah mereka bisa teraliri air,” ujar I Nyoman Slamet saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/8/2017).

Menurutnya, kebutuhan perbaikan bendungan sangat mendesak karena selain untuk mengairi sawah – sawah yang telah ada, juga untuk mengairi percetakan sawah baru yang merupakan program pemerintah pusat yang diturunkan ke daerah.

“Warga sangat berharap, kiranya pemerintah segera melakukan perbaikan bendungan irigasi mereka,” katanya.

Selain itu, warga juga meminta agar ada perbaikan jalan kantong produksi, sehingga mereka dapat memasarkan hasil perkebunan meraka. Memang hal itu menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, namun banyak sekali jalan kantong produksi yang telah dibuka tidak layak untuk dilalui, sehingga warga berharap dengan adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng, semua keluhan mereka itu bisa secepatnya teratasi.

“Secara umum, warga di Kecamatan Sausu dan Torue adalah petani, sehingga mereka sangat berharap sekali adanya perbaikan jalan kantong produksi agar mereka tidak kesulitan memasarkan hasil perkebunan mereka,” jelas polisisi PDI Perjuangan ini.

Terkait dengan adanya penembakan warga di Parigi oleh orang tak dikenal (OTK) beberapa waktu lalu, membuat sebagian besar petani resah dan takut ke kebun. Apalagi ada himbauan dari aparat keamanan yang meminta para petani tidak ke kebun jika sendirian, semakin membuat para petani gusar untuk ke kebun. Karena itulah, para petani meminta adanya perlindungan dari aparat keamanan jika mereka berangkat ke kebun.

“Bahkan menurut aparat keamanan yang ikut reses bersama saya, saat ini target aparat untuk memburu para kelompok bersenjata sudah bergeser dari Poso ke Parigi. Itulah sebabnya sehingga para petani meminta perlindungan dari aparat jika ke kebun,” katanya.

Keluhan lain yakni, adanya pelarangan untuk menjual gabah ke tempat lain, juga sangat memberatkan para petani, karena Bulog membeli gabah mereka lebih rendah sehingga mereka merasa rugi.

“Bulog membeli dengan harga yang lebih rendah. Bahkan selisihnya sangat jauh dari pembeli lainnya, sehingga warga meminta agar kedepan tidak ada pelarangan itu lagi,” imbuhnya.

Namun jika Bulog bisa membeli dengan harga yang tidak terlalu jauh perbedaannya, maka warga bersedia menjual hasil panennya ke Bulog.

“Ya hitung – hitung selisih 200 rupiah saja, warga masih mau menjualnya ke Bulog. Tapi kalau terlalu jauh selisihnya, maka warga lah yang mengalami kerugian karena tidak menutupi biaya produksinya,” tutupnya. FUL

Harian Mercusuar

View all posts

Latest videos