PALU, MERCUSUAR – Kehadiran Rumah Sakit (RS) diharapkan menjadi penyambung hidup warga, pelayanan dan tingkat kepercayaannya begitu diharapkan setiap pasien. Namun, kini pelayanan Rumah Sakit seperti terbalik, di Sulteng. Tiga Rumah Sakit swasta dan umum RS. Undata dan RS. Anutapura, RS Bhayangkara kini mulai dipertanyakan integritasnya.

“Jujur saya kecewa, anak saya seperti dijadikan kelinci percobaan. Ke rumah sakit dokter yang satu katakan lain, yang satu lagi dokter lain perkataannya,”kata Mega (27), Rabu (16/11/2016).
Mega adalah ibu muda dua anak. 20 hari yang lalu, ia melahirkan bayi laki-laki tampan di RS. Bhayangkara bernama Aidan Syam Putra, namun baru sehari melahirkan, anaknya terpaksa dirujuk ke RS. Undata karena mengalami sesak nafas.

“Saat ke Undata, bayi saya kakinya bagus. Tidak rusak seperti saat ini. Saya kalau lihat lagi videonya waktu masih baru lahir, saya tidak menyangka kaki anaknya saya bisa seperti ini. Saya hancur,”curhat Mega.
selama seminggu, bayinya dirawat di ruang perawatan bayi RS. Undata. Ia dan suaminya sepenuhnya menyerahkan kepercayaan perawatan bayinya kepada rumah sakit tersebut. Jika dilihat dari luar, tampilan ruang perawatan tersebut sangat terjaga, suster dan dokter selalu sigap melayani pasien bayi.
Namun, setelah seminggu bayi Aidan dirawat di RS itu, Mega melihat ada keanehan di kaki sebelah kiri anaknya, tepatnya di bagian mata kaki.

“Kaki anak saya membiru dan bengkak. Saya kaget, saya tanya ke pihak rumah sakit. Mereka bilang tidak apa-apa. Katanya nanti kompres dan itu atas persetujuan dokter yang menangani bayi kami,”terang dia.
Karena tak tahan melihat kaki anaknya itu, mega lalu berinisiatif untuk memulangkan anaknya. Pihak rumah sakit sempat menolak permintaan Mega dengan alasan kaki bayinya perlu di kompres dahulu untuk menghilangkan memar yang ada.

“Saya berfikir kalau dikompres saya juga bisa. Ini kaki anak saya suda biru gara-gara diinfus. Saya tidak mau lagi dia diinfus. Pantatnya juga jadi iritasi, mereka sepertinya tidak membersihkan pantat bayi saya dengan baik,”ujar dia.
Setelah pulang dari Undata, mega lalu mengopres kaki bayinya sendiri. Namun, setelah beberapa hari bukannya kompres itu menghilangkan biru pada kaki bayinya, malah kulit bayinya yang membiru menjadi berwarna ungu dan melekat pada kulit.
Mega mulai gusar, beberapa hari setelahnya, ia ke dokter praktek untuk mempertanyakan bengkak pada kaki anaknya tersebut. Namun dokter praktek menyarankan agar bayinya dirawat di rumah sakit. Ia lalu membawa kembali Aidan ke RS. Undata, sesampai di rumah sakit itu, dokter menyarankan agar bayinya dirawat kembali, dan akan diinfus.

“Saya langsung menolak karena gara infus itu kaki anak saya jadi begini. Manalagi jarum infusnya besar sekali ukuran orang dewasa. Saya tidak tega,”kata Mega.
Ia lalu membawa anaknya ke RS. Anutapura. Sesampai di RS itu, bayinya diinfus, namun kali ini jarum infus berukuran kecil. Mega sedikit lega tetapi wawas.
Selama dirawat di ruma sakit itu, Mega mengaku dilayani dengan baik, setiap waktu dokter melihat kondisi bayinya. Setelah beberapa hari dokter yang menangani memberikan resep obat cairan berwarna biru untuk kaki bayi Mega. Katanya obat itu, untuk mengeringkan luka Aidan dengan cepat.

“Dokter yang menangani bayi saya bilang kaki anak saya infeksi. Suster juga mengatakan luka anak saya dalam. Makannya kalau dia besar akan membekas,”aku Mega.
Karena percaya, selama di rumah sakit Mega menaruh obat itu di kaki Aidan yang mulai berbentuk luka menganga. Akhirnya, luka pun mulai terlihat kering. Penggunaan obat itu dipakai sampai bayinya diperbolehkan pulang ke rumah.
Namun, dokter memberikannya surat perawatan kembali pasca rawat inap ke Poliklinik Anak RS. Anutapura. Beberapa hari kemudian, mega membawa anaknya Poliklinik itu, dokter yang memeriksa kaki Aidan sempat kaget karena obat yang diberikan untuk bayi Mega, bukanlah obat yang cocok untuk luka Aidan. Melainkan obat untuk luka jamur.

Dokter lalu menyarankan agar Mega kembali ke rumahnya dan melepas penggunaan obat sambil membersihkan luka anaknya dari warna tersebut agar pihaknya dapat melihat dengan jelas luka yang dialami Aidan.
“Saya heran, kenapa yang dikatakan dokter yang menginfus anak saya lain dan setelah ke Poliklinik tanggapannya juga lain lagi,”sesal Mega.
Dari persoalan itu, ia memutuskan tidak akan ke rumah sakit lagi atau ke dokter manampun karena ia hanya merasa dipermainkan.

Berkaitan dengan hal itu, Dirut RS. Undata, dr. Reni Lamadjido saat dikonfirmasi perihal persoalan bayi kaki bayi Aidan itu mengarahkan bayi Aidan ke dr. Amsyar Spesialis Anak Sekaligus Wakil Direktur Palayanan.“Besok ditunggu di Undata kalau bisa bawa adiknya juga supaya bisa tuntas kasusnya le,”ucap Reni.

Menanggapi balasan dr. Reni, Mega mengaku tidak ingin lagi ke rumah sakit itu. Ia sudah terlanjur kecewa dengan pelayanan dokter dan rumah sakit. Ia memilih mengobati anaknya dengan obat kampung. “Sudah cukup anak saya diobat dokter. Biar saya sendiri saja yang obati anak saya,”tandas dia.
Mega tidak sendiri. Pelayanan rumah sakit yang buruk juga dialami Triyan, bapak dua anak dari Ahmad Dhaby Fahriansyah dan Teguh Filyan Al-Gala merasakan nasib lebih naas. Anak pertamanya Fahri begitu disapa usia 4 tahun  2 bulan, pada 21 April 2016 pukul 23 WITA akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Balai Keselamatan (BK) Palu.

Memang Triyan bukanlah seorang ahli kesehatan, ilmu yang ia pelajari hanyalah komputer. Tetapi tanda tanya besar hingga sekarang masih menyelimuti keluarganya atas kematian anaknya tersebut.

Diceritakannya, sebelum anaknya meninggal, Fahry sempat mengeluh sakit pinggang bagian kanan atas, sakit perut dan mencret. Sebum meninggal, tiga orang dokter menangani Fahry, yang pertama dokter di Puskemas Birobuli, dokter di RS BK yakni Dokter Efendi dan Sudading, ketika mengeluarkan diagnosis yang sama yakni gangguan pencernaan dan satu dokter mengatakan amandel.

“Tapi karena tidak mengalami perubahan, terakhir kalinya saya minta anak saya di USG sama Dokter Efendi, tapi ia tidak merespon karena masih meyakini anak saya tidak apa-apa,”kenang Triyan.

Karena penasarana, tanpa sepengatahuna dokter, membawa anaknya untuk di USG. Hasilnya,, betapa kagetnya ia, di dalam perut anaknya besarang bakteri amuba. Triyan pun mencari Dokter Susading untuk memperlihatkan hasil USG tersebut untuk menunjukan anaknya bukan sakit diare. Namun, orang yang ia cari sudah tidak ada di tempat.

Esok harinya, ia kembali ke Ruang UGD RS BK, dan menunjukan hasil USG tersebut kepada salah satu dokter di tempat itu. Hasilnya ia lebih kaget lagi karena hasil USG menunjukan ada banjolan 4 cm di hati Fahry sejenis bisul dan ada amuba di usus besar anaknya.

“Selanjutnya anak saya mereka infus, anak saya juga disuntik antibiotik. Anehnya, setelah 40 menit disuntik anak saya gelisah, suhu badannya naik 49 derajat selsius, anak saya lalu dikompres karena panasnya tidak hilang, lalu tiba-tiba dipakaikan oksigen,”ungkapTriyan.

Selanjutnya, Dokter Sudading yang ia cari, baru datang jam 23:00 WITA, namun sayang pada saat kedatangannya itu, anaknya Fahry mengembuskan nafas terakhir.

“Pertanyaan saya, kenapa tidak di USG saja anak saya setelah tidak ada perubahan yang dia rasa? Sehingga bisa ketahuan apa penyakitnya. Saya juga baca di artikel, penggunaan antibiotik pada anak saya justru mendekatkan ia pada kematian karena dia tidak cocok dengan obat itu,”sesal dia.

Ia juga sangat mengesalkan dengan pelayanan RS BK karena tidak memuaskan, jumlah dokter dan suster magang yang belum memiliki pengalaman lebih banyak ketimbang dokter handal. Mereka juga tidak dikawal oleh dokter yang berpengalaman.

“Kami ingin mencari alasan dari semua itu. Tapi apalah kami ini. Kami hanya tidak ingin apa yang kami alami juga dirasakan pasien lainnya,”tandas Triyan.

Lepas Tangan

Sementara itu, RS. BK, bulan 6 Juni 2016, Mercusuar sempat mengonfirmasi persoalan itu langsung dan bertemu Humas Bagian Umum RS BK, Frederik sekaligus membantu memasukan surat aduan Triyan. Dari keterangannya pihaknya akan memasukan aduan tersebut langsung ke Dirut RS BK.

“Tapi dirutnya sedang di luar kota. Saya serahkan ini. Dan mungkin akan dirapatkan terlebih dahulu sekaligus memanggil yang bersangkutan,”ucap Frederik.

Namun, hingga berita ini diturunkan panggilan itu tidak juga dilakukan. Saat dikonfirmasi kembali di bulan November ini, Frederik mengatakan sudah menyerahkan persoalan itu kepada direktur. Sementara soal tindak lanjutnya, ia tidak mengetahui lagi karena bukan ranahnya.

“Kalau masalah seperti itu harus direktur yang tindaklanjuti. Kalau ada arahan pasti bawahan jalan. Mohon maaf kami tidak bisa bekerja sendiri-sendiri semua harus sepengetahuan atasan,”tulisnya dalam pesan singkat.

Ketika dikatakan RS BK terkesan lepas tangan karena hingga hari ini belum juga ada tindak lanjut, baru Frederik mengatakan akan mengonfirmasi dan menanyakan tindak lanjut dari pesoalan tersebut. Tetapi, ia menyangkal tidak pernah menerima surat dari orangtua atau keluarga anak Triyan. Ia hanya mengaku baru tahu masalah itu dari Mercusuar, padahal surat itu telah dimasukan sejak bulan Juni oleh Mercusuar sendiri dan ia sendiri yang menerima surat tersebut. Aneh! INT

Harian Mercusuar

View all posts