“WAH, siapa dia? Orangnya cerdas dan tampaknya masih muda. Sepertinya, dia seorang calon pemimpin masa depan di Sulawesi Tengah,” kata seorang teman, wartawan Kompas dari Jakarta.

Kalimat itu secara spontan dikemukakan teman tadi ketika mendengar Hidayat Lamakarate memberikan sambutan pada penerbangan perdana Citilink di Bandara Mutiara Sis Aljufri beberapa waktu lalu.

Entah apa alasannya, secepat itu ia menyimpulkan Hidayat seorang calon pemimpin masa depan di Sulteng. Apakah melihat dari gaya bicaranya, atau mendengar sambutan Hidayat tanpa sambutan tertulis. Wallahu alam.

Saya pun menjawab apa adanya. “Ya, dia memang seorang pemimpin sekarang. Dia adalah penjabat Wali Kota Palu. Sebelumnya, ia pun penjabat Bupati Banggai Laut.

Teman tadi pun hanya menganggukkan kepala tanpa memberi komentar lagi. Tetapi pandangannya, diarahkan ke Hidayat yang sedang membacakan sambutan tanpa teks.

Akhir-akhir ini, nama Hidayat Lamakarate pun mulai diperbincangkan. Itu berkaitan dengan pencarian figur calon wakil gubernur.

Siapa Hidayat Lamakarate? Dia adalah salah satu putra dari Baso Lamakarate, mantan Wali Kota Palu. Kini Hidayat adalah Staf Ahli Gubernur Sulteng Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik.

Hidayat lahir di Palu, 8 Oktober 1970. Menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Palu. Setamat SMA Negeri 2 Palu, ia melanjutkan sekolahnya di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri, Makassar. Lalu kemudian melanjutkan ke jurusan Politik, Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta. Magister Sosiologinya didapat dari Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.

Dikutip dari SE, sebagai birokrat, kariernya termasuk cemerlang. Pada 2003-2006, ia menjadi Camat Palu Timur. Lalu menjadi Kepala Bagian Kepegawaian Kota Palu pada 2006-2007. Pada 2007-2009, ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Pengembangan Karir Badan Kepegawaian Daerah Kota Palu. Pada 2009-2010, ia menjadi Sekretaris DPRD Kota Palu. Ia juga pernah menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Palu pada 2010-2012.

Kariernya kemudian melesat ke provinsi. Gubernur Sulteng Longki Djanggola memanggilnya menjadi Kepala BKD Provinsi Sulteng pada 2012. Dengan pertimbangan kecakapan dan kemampuannya, pada 22 April 2013, Longki kemudian memerintahkan Hidayat menjadi Penjabat Bupati Banggai Laut hingga daerah otonomi baru pecahan dari Banggai Kepulauan itu memilih bupati defenitifnya.

Soal urusan menjadi penjabat kepala daerah, rupanya Longki tidak punya pilihan lain saat Kota Palu menghelat pemilihan umum kepala daerah. Pada 2015, ia ditunjuk menjadi Penjabat Walikota Palu.

Soal kariernya hingga pencalonannya sebagai Wakil Gubernur Sulteng, Hidayat berujar singkat, “Ini sudah jalan Tuhan. Takdir Tuhan. Sebagai manusia biasa, saya tinggal menjalaninya.”

Hidayat dianggap cemerlang dan membumi. Saat berada di Banggai Laut, November 2015, saya bertemu dengan tukang ojek sepeda motor yang menyayangkan Hidayat tidak mau mencalonkan diri sebagai Bupati Banggai Laut.

“Kalau dia mencalonkan diri, pasti menang,” kata tukang ojek itu. Sayang, saya lupa menanyakan namanya,” kata seorang wartawan, Jafar G Bua.

Birokrat penyuka olahraga diving ini, juga sangat suka pada tanaman. Saat menjadi Penjabat Bupati Banggai Laut, ia menata alun-alun kota menjadi ruang terbuka hijau yang saat ini dinikmati oleh warga setempat.

Saat menjadi Penjabat Walikota Palu, Taman Vatulemo yang lama tak diperhatikan kembali ditatanya.

Dalam catatan sejumlah aparatur sipil negara, ia unggul dalam program reformasi birokrasi. Apakah dia akan tetap berkarier sebagai aparatur sipil negara atau akan menjadi Wakil Gubernur Sulteng, kita tunggu saja kepastiannya dalam pekan-pekan ini.MAN

Harian Mercusuar

View all posts