DONGGALA, MERCUSUAR – Bendahara SD di Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala diduga telah merugikan sejumlah guru, karena diduga telah selewengkan gaji guru selama beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan laporan salah satu kepala sekolah di Kecamatan Sindue, Lukman menjelaskan, ada beberapa guru yang bernasib sama seperti dirinya, karena gaji yang seharusnya dipotong untuk membayar kredit pinjaman, ternyata tidak dibayarkan oleh bendahara.

Kejadian tersebut sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir sejak 2017, ketika bendahara TK dan SD masih diamanatkan kepada Uly Suryani dan kini masih berlanjut ketika posisi bendahara tersebut diamanatkan kepada Nemba.

“Untuk sekolah TK dan SD di Sindue, gaji hanya dipegang oleh satu orang saja, makanya bukan guru dari sekolah saya saja yang dirugikan tapi juga sekolah lain di Sindue,” ujarnya.

Lukman menjelaskan, sampai saat ini ada delapan orang yang menyatakan dirugikan jutaan hingga belasan juta, karena menunggak kredit pinjaman di bank. Hal tersebut diketahui ketika pihak bank menelpon dan memaksa para guru tersebut untuk melunasi tunggakan tersebut.

Menurut Lukman, dirinya dan sejumlah guru lainnya juga telah mengupayakan persoalan ini untuk diselesaikan secara baik-baik, namun baik Ely Suryani maupun Nemba belum bisa memberikan jalan keluar.

“Padahal selama ini gaji kita dipotong untuk bayar kredit pinjaman tersebut, makanya kita kaget ditelpon sama pihak bank kalau kredit pinjaman kita sudah menunggak,” jelas lagi.

Berdasarkan data yang diberikan oleh Lukman, dari pihak perbankan delapan orang tersebut di antaranya Suardi menunggak hingga Rp9.508.500, Zulfiah menunggak hingga Rp10.846.600, Rahmawati menunggak hingga Rp8.167.000, Masta menunggak hingga Rp14.160.000, Lukman menunggak hingga Rp8.802.000, Masintan menunggak hingga Rp4.728.666, Rosda menunggak hingga Rp8.548.746 dan Ian Fabianto menunggak hingga Rp4.365.770. Delapan orang guru di Sindue tersebut juga telah menandatangani surat terkait kerugian yang diduga dilakukan oleh bendahara SD di Sindue.

Sedangkan Bendahara SD Kecamatan Sindue, Nemba, yang dihubungi Harian Mercusuar di nomor 0852 41457xxx menjelaskan, persoalan tersebut tidak pernah disampaikan atau dibicarakan secara langsung kepadanya.

“Saya baru dengar juga ini, selama ini mereka tidak pernah sampaikan sama saya. Kalau begini caranya, sudah pencemaran nama baik,” ujarnya via telpon.

Bendahara yang baru di SK-kan sejak bulan Mei 2017 tersebut juga menjelaskan, selama dirinya diamanatkan sebagai bendahara, tidak pernah merasa menyelewengkan atau mengunakan uang potongan gaji guru-guru tersebut. Selama ini, menurutnya, dirinya melakukan pemotongan sesuai dengan data yang sudah ada dan selalu disetor dan dibayarkan di bank yang dimaksud.

Bahkan dirinya mempertanyakan, tunggakan yang dimaksud berasal dari bank apa saja, karena semua bukti pembayaran kredit pinjaman dari potongan gaji guru lengkap dan tidak pernah sama sekali diselewengkan.

“Data bank darimana, itu perlu dipertanyakan. Selama ini saya potong gaji guru sesuai dengan jumlah pembayaran mereka di bank dan buktinya juga ada,” jelasnya lagi.

Sementara itu, Ely Suryani yang merupakan mantan bendahara, sudah berusaha dikonfirmasi di nomor 0823 96003xxx, namun tidak dapat dihubungi. RES

Harian Mercusuar

View all posts