BESUSU TIMUR, MERCUSUAR – Fauzia Noorchaliza Fadly Tantu adalah pelajar kelas II Sekolah Menengah Negeri Atas (SMAN) Model Terpadu Madani Palu, didaulat menjadi pembicara tamu dalam diskusi Komunitas Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI). Dalam pertemuan tersebut, kumpulan puisi ‘Z’ karyanya diapresiasi dan dibahas dalam kegiatan itu.

Pertemuan dihadiri dosen pengajar dan guru-guru Bahasa Indonesia, balai bahasa, LPMP, ketua prodi S1 Bahasa Indonesia, Ketua Prodi S2 Bahasa Indonesia dan dosen senior

Menurut Ketua HISKI, Dr. Gazali Lembah, Kamis (25/5/2017), Fauzia yang akrab disapa Zaza tersebut dianggap remaja yang produkti dan memiliki bakat kesastraan yang jarang sekali ditemukan oleh anak seusianya.

“Karya puisi  Zaza, melebihi dari imajinasi kita. Dalam puisinya ia menggambarkan orang-orang penganggum hujan. Begini petikannya: ketika hujan datang, mereka mengalami kebahagiaan yang tida tara. Ini saya cari di kamus dan internet maksud dari puisinya, ternyata saya tidak dapat,”kata Gazali dalam pertemuan tersebut.

Dari karya-karyanya tersebut, ia dapat menilai bahwa anak itu merupakan remaja yang peduli pada alam karena dalam setiap puisinya Zaza akan selalu memasukan kata tentang angin, langit, hujan, laut, hutan, gunung, danau dan sebagainya yang menunjukan hasil dari pengalaman empirisya sebgai remaja wanita.

“Dalam puisinya ia juga mengkritik soal kerusakan lingkungan. Seperti karya untuk Reklamasi Teluk Palu yang berjudul enam kaki dan reklamasi,”ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Gazali membacakan beberapa tanggapan-tanggapan positif dari kalangan akademisi, tidak hanya di Sulteng tapi merambah hingga provinsi lain, itu karena Zaza mempublikan karya-karyanya di internet. Tidak tanggung-tanggung 101 puisi yang ia buat, hanya memakan waktu tidak sampai setahun.

“Seperti tanggapan dari seorang dokter di Unsrat, ia mengucapkan selamat kepada Fauziah dan ada juga dari Dewan Kesenian Sulawesi Utara (Sultra) juga memuji Fauziah,”ungkap dia.

HISKI pun mendorong agar karya Zaza segera diterbitkan menjadi buku. Ia yakin bila itu diwujudkan, buku tersebut akan laku di pasaran, terutama akan dibeli oleh mahasiswa-mahasiswa sastra untuk dijadikan penelitian sastra anak.

Zaza yang diundang kala itu, mengaku sangat gugup dan terkejut dengan reaksi HISKI atas karyanya. Sama halnya harapan Gazali, ia juga bertekad untuk menjadikan puisi-puisinya tersebut dalam satu buku.

“Impian saya adalah, saya ingin membuat tradisi acara ulang tahun bagi anak-anak remaja seusia saya. Bila yang lain kalau ulang tahun ke mall, jalan-jalan atau yang berkaitan dengan hedonisme. Saya ingin di ulang tahun yang ke-17, saya bisa menghasilkan buku,”kata remaja yang telah menulis puisi sejak umur tujuh tahun dan penganggum Tere Lie ini.

Bagi ayah dari Zaza, Dr. Fadly Y. Tantu dosen di Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetkan) ini mengaku, sebagai orangtua ia memberikan ruang gerak anak-anaknya untuk mengekspresikan dirinya ke hal positif.

“Melihat perkembangan media saat ini, sebenarnya media juga harus memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengeluarkan gagasannya. Saya pikir banyak anak-anak hebat di Indonesia khususnya Sulteng, namun tidak diliput dengan baik. Anak-anak memiliki dunia sendiri, dan media terutama surat kabar juga harus mampu memenuhi itu sebagai tanggung jawab kita bersama di masa mendatang,”tutup Fadly. INT

Komentar

komentar

Harian Mercusuar

Lihat semua tulisan