TOLITOLI, MERCUSUAR – Kabupaten Tolitoli sempat lumpuh akibat banjir besar yang mengakibatkan ribuan rumah penduduk terendam sampai di atap rumah. Dilaporkan, ribuan warga mengungsi dan dua orang meninggal dunia serta dua orang lainnya dinyatakan hilang.
“Ini data sementara yang kami terima dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang ada di lokasi banjir,” kata Kepala BPBD Provinsi Sulteng, Bartholemus Tandigala di Palu, Minggu (4/6).
Sebanyak 56 ribu keluarga di empat kecamatan di Kabupaten Tolitoli terdampak banjir yang terjadi Sabtu (3/6/2017) petang hingga malam. Hujan yang turun sejak Sabtu pukul 13.00 Wita menjadi penyebab meluapnya sejumlah sungai di Tolitoli.

Di dalam kota, dari beberapa lokasi terpantau ketinggian air atara 30 centimeter hingga empat meter. Wilayah terdampak parah seperti Jalan Anoa hingga hampir 2 meter. Di kelurahan Panasakan, ketinggian air juga mencapai satu meter. Di kantor Kelurahan Baru, air setinggi setengah meter.

Adapun jalan di depan Lembaga Pemasyarakatan  Desa Tambun, Kecamatan Baolan,  sempat tidak bisa dilalui kendaraan beberapa jam lantaran ketinggian genangan hingga setengah meter.  Dusun Melempak, Desa Dadakitan juga menerima kiriman air setinggi 30 cm.

Selain di Kecamatan Baolan, wilayah ibu kota Kabupaten Tolitoli, banjir juga menggenangi warga di Kecamatan Galang, Dakopemean dan Lampasio.

Di Desa Tinigi, Kecamatan Galang, selain merendam rumah-rumah warga setinggi 20-30 centimeter, banjir juga memutus akses jalan menuju Desa Lakatan akibat jembatan terbawa arus.

Bendungan yang menjadi pemasok air di persawahan empat desa, yakni Tinigi, Tende, Ginunggung, dan Lalos juga dikabarkan rusak dan terancam tidak berfungsi. Ini mengkhawatirkan sebab keempat desa tersebut menjadi penyuplai beras di wilayah Tolitoli.

Di wilayah lain di Kecamatan Galang, banjir dengan tinggi 30-40 cm juga dialami desa di pesisir, yakni Desa Kalangkangan dan kilometer 12 Desa Lalos.  Demikian halnya ruas Jalan  Trans Sulawesi dan pemukiman di Desa Galumpang, Kecamatan Dakopemean ketinggian air hingga 30-40 centimeter.  Di Lampasio, jembatan penghubung Palu-Tolitoli juga putus dihantam banjir.

Informasi dari BPBD Sulteng menyebutkan,  seorang warga bernama Salma (60) di Jalan Anoa, Kelurahan Tuweley, Kecamatan Baolan, meninggal dunia akibat banjir. Satu lagi warga yang dikabarkan meninggal dunia adalah perempuan berusia 62 tahun bernama Rahmi, tinggal di Dusun Pilado, Desa Tambun, Kecamatan Baolan.

Sementara dua lagi korban yang dinyatakan hilang adalah Mea (43) dan Sastro (41). Keduanya adalah nelayan yang tinggal di Dusun Doyan, Kecamatan Galang, yang pada saat kejadian berupaya menyelamatkan sebuah kapal ikan. Namun naas keduanya terseret air laut.

Memang, pada saat yang sama pesisir Tolitoli sedang mengalami banjir rob, atau banjir akibat air laut pasang.  “Iya, dua warga meninggal dunia dan dua warga lainnya masih belum ditemukan,” kata Kepala BPBD Sulteng, Bartholomeus Tandigala saat dihubungi Mercusuar, Minggu (4/6/2017).

Pemerintah Kabupaten Tolitoli saat ini sedang mendata kerugian material akibat banjir.  Hanya saja, berdasarkan pantauan dan informasi diperoleh, banjir tersebut  menyebabkan 56 ribu keluarga di empat kecamatan terkena dampak banjir dengan kerusakan perabot rumah tangga, peralatan elektronik, pakaian, makanan dan berkas administrasi kependudukan.

Sejumlah masjid di dalam Kota Tolitoli terendam hingga tidak dapat melaksanakan Salat Tarawih.  Enam rumah hanyut dan dua rumah roboh di Desa Dakitan. Empat rumah hanyut di Desa Buntuna serta  tiga rumah roboh di Lemba, Kelurahan Baru, Kecamatan Baolan. Dampak lain dari banjir adalah kerusakan layanan ATM bank di Tolitoli. DAR/IKI

Komentar

komentar

Indar Ismail

Lihat semua tulisan