•      SD dan SMP Terancam Pemutusan Listrik

PALU, MERCUSUAR –  Gara-gara dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) tak kunjung cair,  sejumlah SD dan SMP Negeri di Kota Palu terancam pemutusan aliran listrik dan internet. Hal itu terjadi karena sekolah sudah menunggak sejak Juni 2017.

Sebelumnya seluruh sekolah tersebut masih bisa membayar dengan menggunakan pinjaman dari pihak ketiga. Namun di TW 4 ini, sekolah mulai kesulitan.  Sementara pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Telkom terus melakukan penagihan pembayaran listrik dan internet.

Kepala SDN 24 Palu, Sitty Syamsinar mengatakan sangat menyayangkan dana BOS yang hingga kini belum cair sebab sekolah terancam tidak akan menggunakan listrik dan internet karena akan diputus.

“Jika ini terjadi maka kami sudah tidak tahu mau melakukan apa di sekolah sebab listrik dan internet sangat dibutuhkan di sekolah. Untuk itu, kami memohon kepada Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng sebagai penyalur dana BOS untuk membuatkan surat permohonan kepada pihak PLN dan Telkom agar sekolah diberikan keringanan dan tidak memutuskan listrik dan internet,” katannya, Senin (16/10/2017).

Jika tidak ada surat permohonan dari pihak Dikbud Sulteng maka bisa dipastikan tidak lama lagi pihak PLN dan Telkom akan memutuskan aliran listrik dan internet. Sebab sekolah sudah lama menunggak. Pihak sekolah tidak bisa melarang karena mereka memang tidak membayar tagihannya. Tetapi jika ada surat dari Dikbud kepada PLN dan Telkom kemungkinan mereka bisa mengerti dan tidak memtuskan aliran listrik dan internet.

Hal yang sama dirasakan oleh SMP kerena kesulitan melakukan pembayaran listrik, internet, pengadaan ATK, serta pembayaran tenaga honorer dan kontrak.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Palu sekaligus Kepala SMPN 2 Palu, Hadi Wisusanto, mengatakan untuk mengantisipasi agar sekolah tetap jalan, sekolah terpaksa melakukan pinjaman kepihak ketiga atau koperasi sekolah, seperti yang dilakukan SMPN 2 Palu.

“Saya ngutang agar pengadaan ATK tetap ada, bahkan terakhir saya ngutang di koperasi sekolah,” terangnya.

Hal ini diakui masih beruntung, sebab sekolahnya masih ada yang bisa mereka pinjam untuk pembiayan operasional, jika dibandingkan sekolah lainnya yang sama sekali tidak ada yang bisa mereka pinjam seperti koperasi sekolah, tentunya mereka harus melakukan pinjaman barang di toko-toko, atau tempat foto copy.

Terkait pemutusan listrik oleh PLN harus diantisipasi oleh pemerintah, minimal pemerintah menyurat ke PLN dan menjelaskan terkait kondisi sekolah saat ini.

Jika tidak, dikhawatirkan dalam waktu dekat ada sekolah yang harus gelap akibat pemutusan listrik oleh PLN, dan tentunya ini akan berimbas pada kualitas mutu anak didik.

“Pasti akan terganggu semua jika listriknya diputus, ini harus segera diantisipasi,” tutupnya.UTM

Harian Mercusuar

View all posts