SIGI, MERCUSUAR – Bupati Sigi Moh Irwan Lapatta kembali turun langsung menangani serta mencarikan solusi guna menuntaskan konflik di Kecamatan Marawola, khususnya yang melibatkan Desa Binangga, Boya Baliase dan Baliase. Salah satu solusinya adalah Bupati meminta jam malam diberlakukan di wilayah tersebut.

“Jam malam sudah kita sepakati saat mediasi perdamaian beberapa minggu lalu. Jadi ini harus dilaksanakan bahwa jam sembilan malam tidak boleh ada lagi aktivitas masyarakat, terutama pemuda di luar rumah masing-masing. Apalagi berkumpul lewat dari jam sembilan, saya harap tidak ada lagi,” tandas Bupati saat pertemuan dengan Kepala Desa (Kades) Binangga, Boya Baliase dan Baliase, Senin (12/2/2018).

Menurutnya, jam malam jadi salah satu solusi karena selama ini konflik selalu terjadi saat malam hari hingga dinihari. Olehnya, ia mengajak kades di tiga desa, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk berperan aktif mewujudkan perdamaian dan keamanan di wilayah itu. “Kalau masih ada yang berkeliaran di atas jam sembilan, berarti itu sudah melanggar kesepakatan kita bersama dan itu sudah kami serahkan ke pihak kepolisian. Kuncinya kepada masyarakat untuk bisa menahan diri dan berkomitmen dengan kesepakatan damai ini,” sambungnya.

Selain itu, Bupati meminta kades dan para tokoh untuk membantu menelusuri siapa semua masyarakat yang masih menyimpan dan memiliki senjata yang digunakan saat konflik, seperti busur, dumdum dan lain-lain. “Maksudnya siapa pun yang masih menyimpan senjata-senjata itu mohon disampaikan untuk menyerahkannya ke pihak kepolisian. Kalau tidak ada senjata seperti itu, tentu ini bisa membantu meredakan konflik dan mengurangi resiko jatuhnya korban,” jelasnya.

Sementara menyangkut pengamanan pasca konflik, Kapolres Sigi AKBP Agung Kurniawan SIK menyatakan pihaknya menurunkan sebanyak 250 personil gabungan TNI dan Polri. Ratusan personil tersebut ditempatkan di beberapa titik rawan, terutama di perbatasan ketiga desa.

“Marilah masyarakat sadar bahwa konflik ini tidak menghasilkan apa-apa kecuali kerugian. Jadi bagi yang menyimpan senjata seperti dum dum dan sebagainya, tolong segera serahkan ke aparat kami. Tidak perlu terang-terangan kalau malu. Kami tidak akan tindak hukum bagi yang menyerahkannya,” tutup AKBP Agung.

Diketahui, konflik di perbatasan tiga desa tersebut telah berlangsung sejak beberapa minggu lalu dan masih terus terjadi meski sudah dilakukan kesepakatan damai. Bahkan konflik pada Minggu (11/2/2018) malam hingga Senin (12/2/2018) dini hari memakan satu korban tewas warga Desa Boya Baliase Anang Apriyanto. BAH

 

Harian Mercusuar

View all posts