Penyebab Keuangan Daerah Morowali Defisit

MOROWALI, MERCUSUAR – Ramainya perbincangan di mana-mana mengenai kondisi keuangan daerah Kabupaten Morowali yang tengah dalam kondisi defisit tak bisa terbendung lagi. Saling tuding antara eksekutif dan legislatif tentang siapa yang salah, menjadi topik hangat sehingga masyarakat ikut menjadi bingung melihat kondisi tersebut.

Bupati Morowali, Anwar Hafid, dalam sambutannya saat pelantikan Kades se Kecamatan Bungku Barat beberapa waktu lalu mengungkapkan, tidak sepeserpun pengelolaan keuangan daerah yang tidak diketahui oleh pihak DPRD Morowali.

“Mulai dari beli pensil sampai gedung besar, DPRD tahu. Tidak ada yang tidak dia tau satu sen pun. Sekarang ini banyak sekali orang tahu, Pemda ini katanya bangkrut, kalau mau tahu kenapa kita bangkrut, tidak usah tanya sama saya, tapi tanya sama dewan, karena mereka juga tahu itu, cuma biasa pura-pura tidak tahu, pura-pura buang batu, bilang tidak ikut, padahal sama-sama. Kita di daerah ini bukan bangkrut, tetapi terlalu banyak belanja daripada pemasukan,” urainya.

Dikatakannya pula, untuk membangun suatu daerah harus berani berhutang demi peningkatan infrastruktur dan sektor lainnya.

“Kalau terlalu banyak belanja, siapa yang nikmati? Yang nikmati adalah rakyat, kita bangun jalan, kita bangun semuanya itu diutang, yang susah siapa? Yang susah Bupati, ditagih sama kontraktor. Tapi di mana-mana dibilang kita bangkrut, ndak apa-apa dibilang bangkrut yang penting pembangunan jalan, daripada tidak berani berutang tidak ada yang dilihat,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, anggota DPRD sekaligus Ketua Fraksi Merah Putih, Syahrudin Attamimi, atas nama pribadi sebagai wakil rakyat, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Morowali, khususnya kepada konstituen yang diwakilinya, kalau apa yang dilakukannya sebagai wakil rakyat belum maksimal dan mengaku bersedia untuk dievaluasi.

Ketua DPD Partai Amanat Nasional Kabupaten Morowali itu juga menjelaskan, defisit biasa terjadi di kala suatu organisasi atau dalam sebuah lingkup pemerintah, memiliki pengeluaran lebih banyak jika dibandingkan dengan penghasilan atau uang yang masuk.

Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Morowali, Taslim juga memberikan tanggapannya. Ketua Dewan Penasehat Partai Nasdem Kabupaten Morowali itu juga menjelaskan, penyebab defisit selama ini adalah tidak tercapainya target PAD ini menunjukkan bahwa kinerja pemerintah perlu ditingkatkan untuk mencapai target pendapatan demi menutup defisit daerah.

“Jadi jelas bahwa yang bertanggung jawab adalah pemerintah” tandasnya.

Terpisah, Ketua Fraksi NasDem DPRD Morowali, Kuswandi menjelaskan, tidak tepat jika beban defisit ini dialihkan tanggung jawabnya ke DPRD, mengingat tanggung jawab dewan itu hanya melaksanakan fungsi sebatas budgeting.

Hal itu bisa dilihat dari rancangan APBD tahun berjalan untuk dibahas bersama-sama sebelum ditetapkan menjadi APBD, dalam rancangan itu sudah sangat jauh selisih plafon prioritas anggaran yang ditetapkan melalui KUA PPA.

“Di pembahasan, eksekutif selalu meyakinkan kami bahwa estimasi pendapatan daerah ini sudah realistis dan bisa tercapai apalagi dengan banyaknya potensi-potensi pendapatan kita di daerah ini. Nah ternyata tidak, realisasi pendapatan justru jauh dari estimasi awal yang sudah ditetapkan, inilah faktor utama terjadinya defisit di daerah ini, pengelolaan potensi-potensi pendapatan tidak maksimal, ini bisa juga dilihat dari menurunnya pendapatan retribusi daerah, pajak daerah, DBH, dan lain-lain,” jelasnya.

Menyoroti soal jurus nekad untuk membangun infrastruktur daerah dengan melakukan utang daerah dikatakan Kuswandi, jalan itu bukan pilihan terkecuali daerah dapat menjaminnya.

“Jadi demi untuk menyelamatkan daerah ini dari cengkraman defisit berkepanjangan sehingga tidak menjadi beban warisan anggaran ke depan sebaiknya eksekutif, dalam hal ini semua OPD lebih memaksimalkan lagi kerjanya, mengejar target pendapatan yang sudah diestimasi dari awal, melakukan penagihan terhadap tunggakan retribusi/pajak daerah dari beberapa perusahaan besar di daerah ini, fokus pada beban tugas masing masing itu jauh lebih penting daripada saling tuding soal polemik yang ada di masyarakat, semua kita bekerja untuk daerah tapi dengan tugas yang berbeda jadi baiknya fokus pada tugas masing-masing,” tandasnya. BBG

 

Harian Mercusuar

View all posts