BESUSU TENGAH, MERCUSUAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng, gencar melakukan sosialisasi dan edukasi tentang uang rupiah tahun emisi 2016. Kali ini dilakukan kepada Jajaran Korem 132/Tdl di Aula Manggala Sakti, Senin (6/2/2016).

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulteng, Miyono, sosialisasi dilakukan untuk menipis isu-isu beredar di masyarakat (hoax) terhadap uang NKRI Tahun Emisi (TE) 2016 dan  sekaligus mengenalkan uang baru kepada seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Miyono, saat ini berkembang lima isu yang menyesatkan terkait uang rupiah baru pasca diluncurkan pada Desember lalu antara lain yakni isu yang dihembuskan sekelompok Ormas yang mengatakan bahwa uang rupiah terdapat lambang yang mirip simbol PKI karena ada palut arit, tapi kenyataannya tidak ada lambang tersebut di dalam uang rupiah tahun emisi 2016.

Sejumlah pejabat Korem 132/Tdl saat mengikuti sosialisasi Sosialisasikan Uang NKRI di Aula Manggala Sakti, Korem 132/Tdl, Senin (6/2/2017). FOTO : DOK PENREM 132/Tdl

“Itu gambar ornamen BI yang merupakan salah satu teknik pengaman dalam percetakan uang yakni Rectoverso atau gambar saling isi. Kemudian, isu kedua uang rupiah baru mirip Yuan yang merupakan mata uang Cina, Namun uang baru ini sudah standar dengan bank sentral di negara-negara lain dan tidak mirip dengan Yuan,” ujarnya.

Menurutnya, penentuan warna uang rupiah baru itu bertujuan agar sulit ditiru dengan tinta-tinta biasa yang beredar di pasar sehingga sulit dipalsukan.

Selanjutnya, pemilihan gambar pahlawan dinilai sebagian orang tidak tepat, padahal, gambar pahlawan itu sudah dilakukan sesuai prosedur seperti berkoordinasi dengan Kemenkeu, Kemensos dan Kemenkumham, bahkan sudah melalui diskusi dengan melibatkan akademisi, sejarawan dan tentunya ahli waris.

Selain itu, gambar Cut Muthia pun dipermasalahkan karena tidak berjilbab, padahal hal ini sudah terdaftar di Kementerian Sosial dan disetujui oleh pihak ahli waris.

“ Gambar itu tidak boleh kita ubah sedikitpun, baik dikurangi atau ditambahkan,”jelasnya.

Menurutnya, Uang baru tidak di cetak lebih satu kali dari jumlah yang seharusnya dicetak. Akan tetapi, isu berkembang Bank Indonesia mencetak uang plus satu. Dia mencontohkan, seharusnya Rp 1 juta tapi BI mencetak  lebih Rp 1 juta, itu tidak benar alias hoax.

Sementara itu, isu yang menyesatkan lagi bahwa  uang baru dicetak oleh sebuah perusahaan di Solo yang pemiliknya adalah orang Cina. Namun, lagi-lagi hoax karena selama ini uang dicetak oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum-Peruri), sebuah perusahaan BUMN.

“Itu semua sudah sesuai dengan amanat UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang”, jelas Miyono menutup penjelasannya.

Acara sosialisasi ini diadiri oleh Kasrem 132/Tdl Letkol Inf Andrian Susanto, Para Kasirem 132/Tdl, Kabalak Rem 132/Tdl, Para Perwira Bintara/Tamtama dan Pns Jajaran Korem 132/Tdl.

Pada akhir acara, pihak Bank Indonesia memberikan kesempatan kepada seluruh peserta sosialisasi untuk menukarkan uang lama yang dimilikinya dengan uang NKRI ke Mobil Kas Keliling BI. Hal ini dilakukan untuk menarik secara perlahan uang-uang lama yang masih berada ditangan masyarakat untuk digantikan dengan uang NKRI yang baru. */IKI

Harian Mercusuar

View all posts