TANAMODINDI, MERCUSUAR – Bahasa daerah merupakan satu dari sekian banyak ciri yang menunjukkan identitas suatu suku bangsa. Namun perlahan, kebiasaan masyarakat menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari terkikis oleh perkembangan zaman. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Palu, Ramli Usman berpendapat bukan tidak mungkin suatu saat penggunaan bahasa daerah akan hilang dalam kehidupan beberapa generasi ke depan.

“Ini realita yang bisa anda buktikan mulai dari diri sendiri dan keluarga anda. Seberapa intens anda menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ramli Usman pada pembukaan kegiatan fasilitasi dan penggunaan bahasa daerah di ruang rapat Setda Palu, Selasa(23/8/2016).

Jika saat ini saja gejala tersebut sudah muncul, kata Ramli, lantas bagaimana dengan generasi yang akan datang. Fenomena ini pun menurutnya bukan sekadar pendapat pribadi melainkan telah ada studi kasus yang dilakukan terhadap bahasa Kaili.

Antropolog Profesor Sulaiman Mamar, jelas Ramli, dalam penelitiannya menyimpulkan ada seorang anak bersuku Kaili yang tidak mahir berbicara dengan bahasa daerahnya. Hal itu terjadi lantaran kedua orang tuanya tidak menggunakan bahasa Kaili dalam kehidupan rumah tangganya sehari-hari. “Padahal sesuai penelitian Profesor Sulaiman, ayah anak itu bersuku Kaili Tara sedangkan ibunya Kaili Rai. Tapi anaknya tidak tahu bahasa Kaili,” jelas Ramli Usman.

Berangkat dari fenomena itu, pihaknya akan mulai menggagas kegiatan dan program anggaran untuk memfasilitasi pertemuan-pertemuan dalam rangka mendukung upaya pelestarian bahasa daerah khususnya di Kota Palu. Pihaknya berencana mendorong bahasa Kaili masuk dalam program belajar sekolah, minimal dari tingkat sekolah dasar. Apalagi menurutnya, saat ini visi misi Walikota Palu memang mengarahkan setiap SKPD untuk mendukung program yang berkaitan dengan adat dan budaya. “Tahun depan kami bahkan memprogramkan untuk membuat satu kongres budaya Kaili di Kota Palu untuk melestarikan hal hal yang bersifat adat dan budaya,”ujarnya.

Berangkat dari kekhawatiran itu pula,Kesbangpol menggelar kegiatan fasilitasi penggunaan dan pelestarian bahasa daerah dengan tema melestarikan bahasa daerah dalam mewujudkan Kota Palu berbudaya dan beradat dilandasi iman dan taqwa. Kegiatan ini dihadiri para pihak pendidikan dan sejumlah akademisi pemerhati budaya. ABS

Andi Besse

View all posts