Berkunjung ke Banjarmasin  pada 17-19 Desember lalu adalah kesempatan kedua bagi penulis. Namun kali ini ibukota Kalimantan Selatan(Kalsel) itu lebih meninggalkan kesan. Seperti kata Gubernur Sahbirin Noor, Banjarmasin adalah cerita yang sudah ada sejak 400 tahun silam.

Laporan: Indar Ismail Jamaluddin

Apresiasi yang tinggi layak diberikan kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalsel. Berkat dukungan pemerintah daerah, PWI Kalsel kembali dapat menghelat iven nasional di lingkup PWI: rapat kerja nasional (Rakernas) Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI tahun 2016.

Tak ingin Rakernas tersebut berlalu begitu saja,  Gubernur Sahbirin Noor dalam acara pembukaan langsung mengutarakan keinginannya agar “Banua Banjar” bisa menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XXI tahun 2024 mendatang.

Tidak sekadar cuap-cuap, pada tahun 2017, Pemprov Kalsel bahkan telah menyiapkan anggaran untuk pembangunan sarana pemusatan olahraga (Sport Center) di atas lahan seluas 300 hektare di daerah itu. Karenanya, ia juga mengharap dukungan SIWO PWI.

Dalam soal penyelenggaraan iven-iven nasional, Kalsel memang layak diapresiasi. Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) tahun 2002 dan 2013 pernah digelar di provinsi bergelar “Bumi Lambung Mangkurat”.

Saat mahasiswa, penulis juga pernah menghadiri Muktamar Nasional Pelajar Islam Indonesia (PII) pada tahun 2004 di Banjarmasin. Ini hanya sedikit sekali dari berbagai kegiatan nasional yang dihelat oleh organisasi kemasyarakatan, maupun pemerintah di negeri itu.

Banjarmasin memang “kota yang hangat”. Penduduknya ramah. Seperti itulah kesan yang didapati penulis. Penginapan hingga hotel dengan aneka tarif juga tak sulit dijumpai di pusat kota. Pun demikian dengan makanan, Banjarmasin termasuk surganya kuliner.

Di deretan Hotel Grand Mentari di  Jalan Lambung Mangkurat, kita bisa menjumpai STMJ (susu, telur, madu, jahe) dan bubur kacang hijau yang dijajakan malam hari. Bergeser sedikit, terdapat kue khas Banjarmasin, namanya kue pisang.

Dari namanya saja sudah bisa ditebak, kue ini dibuat dengan bahan pisang. Potongan-potongan pisang seukuran dadu dicampur adonan terigu, susu, telur dan gula. Kue ini dimasak dengan cara digoreng dengan minyak menggunakan cetakan khusus. Bentuknya bulat. Wal hasil, kue pisang Banjarmasin enak dinikmati selagi hangat.

Kalau soal cemilan, Banjarmasin juga punya rasa penggoyang lidah. Yang populer adalah amplang. Amplang adalah kerupuk yang terbuat dari olahan ikan-ikan khas Kalimantan.

Bentuknya seperti ukuran  ibu jari. Untuk masing-masing kemasan, harganya beragam. Yang murah meriah bisa didapati antara Rp9 ribu hingga Rp18 ribu. Yang satu kilogram bisa dijual di atas Rp100 ribu. Oleh-oleh lain adalah ikan sepat olahan, kacang, dan kerupuk.

Penjual rujak gerobak juga bisa dijumpai di tepi jalan dengan harga terjangkau: Rp 10 ribu dan higienis. Kalau berminat dengan jajanan rakyat seperti pentol, aneka minuman, atau sate lontong, silakan berkunjung ke Siring Sudirman.

Di kawasan ini, masyarakat: orang tua, anak-anak dan pasangan muda-mudii tumplek menikmati tepi Sungai Martapura. Lokasi ini ramai pada malam minggu. Dan pada saat nonton bareng final piala AFF antara Tim Nasional “Garuda” dengan Tim  “Gajah Putih” Thailand dihelat Sabtu (17/12/2016) malam, lokasi ini tambah sesak dengan pengunjung.

Harapan kepada Timnas tak putus-putusnya disuarakan warga malam itu. Buktinya,  saat Thailand kehilangan kontrol bola, penonton otomatis bertepuk tangan.  Sebelum itu, Walikota Banjarmasin Ibnu Sina berharap kali ini Timnas berhasil menjuarai Piala AFF.

Walikota dan warga Banjarmasin memang antusias terhadap piala AFF 2016. Pasalnya, dua  bintang lapangan skuad Alfred Riedl adalah anggota personil Barito Putra, klub kebanggaan Kalsel. Mereka adalah Hansamu Yama dan Rizky Pora. Sayang malam itu, keberuntungan belum berpihak ke Timnas.

Akbar (36), warga Sulteng yang sejak tahun 2004 menetap di Banjarmasin mengatakan jika saat ramai, jalan di depan Siring Sudirman itu sulit dilalui mobil. Pada pagi hari, terutama  Minggu, glotok akan menjadi daya tarik warga. Glotok adalah kapal yang bisa memuat hingga belasan penumpang berkeliling di Sungai Martapura- Sungai Barito-Sungai Kuin dan sungai-sungai sekitarnya.

Tarifnya bervariasi. Rp 5 ribu untuk sekadar mondar mandir beberapa kilometer di atas sungai. Rp35 ribu jika ingin sampai menembus Sungai Kuin dan sekitarnya. ***

Komentar

komentar

Indar Ismail

Lihat semua tulisan