PALU, MERCUSUAR – Warga Negara Malaysia berinisial AL sudah tiga kali meloloskan narkoba dari Malaysia ke Palu. Yang menarik, barang haram itu tak terdeteksi petugas di bandara karena dimasukkan ke dalam duburnya.

Di Palu, AL bekerja sama dengan pengedar ZK, salah seorang tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Palu. Dialah yang menjadi penghubung dengan pembeli. Dari tahanan pula, ia mengendalikan AL melalui KS sebagai kurir.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulawesi Tengah, Komisaris Besar Djoko Marjatno menjelaskan hal itu, Selasa (27/9).

Seperti diberitakan Mercusuar hari Senin lalu, AL ditangkap petugas di salah satu kamar Hotel Mercure, Sabtu malam. Petugas BNN dan karyawan hotel sempat adu mulut lantaran nama yang dimaksud tidak sama dengan nama tamu hotel. Ternyata, AL menginap dengan menggunakan nama lain.

Ketika tiba di Palu, AL menginap di Hotel Sutan Radja, dekat Bandara Mutiara Sis Aljufri. Sejak di hotel itu petugas sudah mulai menguntitnya. Entah bagaimana, ia kemudian pindah ke Hotel Mercure.

“Pemantauan sudah dilaksanakan sejak kedatangannya di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Kamis (21/9) sekitar pukul 20.00 Wita,” kata Kepala BNN Sulteng Komisaris Besar Djoko Marjatno di Palu, Selasa (27/9).
Menurut dia, kedatangan AL ke Palu setelah menerima informasi dari ZK yang merupakan pengedar dan penghubung antara AL dengan pembeli di Palu.
ZK, katanya, mengendalikan AL melalui tersangka lainnya KS sebagai kurir, karena ZK merupakan tahanan di lembaga pemasyarakatan Palu.
“Setelah tiba di Palu, AL langsung menuju salah satu hotel yang berada tidak jauh dari bandara. Dua hari kemudian, AL berpindah ke hotel lainnya yang masih berada di Palu,” ujar Djoko.
Ia menuturkan dalam penangkapan Jumat malam, terjadi aksi kejar mengejar antara Tim Brantas BNN Sulteng dengan dua tersangka. Tersangka yang menaiki mobil, merasa curiga dengan Tim Brantas yang terus membuntutinya.
“Tim BNN sempat membuang tembakan peringatan, untuk menghentikan tersangka,” ungkapnya.
Lebih lanjut, kata Djoko, saat ditangkap kedua tersangka tidak ditemukan barang bukti, tetapi setelah dilakukan pengeledahan di hotel tempat AL menginap, ditemukan dua plastik narkoba jenis sabu-sabu dengan berat masing-masing 8,57 gram dan 24,12 gram.
Selain itu, ditemukan 5 butir ekstasi, 4 butir havifes, paspor AL, dan 2 handphone.
Dalam pengembangan kasus, kata Djoko, modus yang dilakukan oleh AL untuk memasukan narkoba ke Indonesia dengan memasukan ke dalam dubur.
AL sendiri telah memasukan narkoba ke Palu sebanyak tiga kali, dua kali berhasil lolos dan ketiga kalinya baru dapat ditangkap.
“Itu dilakukan untuk menghindari proses pemeriksaan. Sehingga kami dari BNN Sulteng juga cukup hati-hati dalam melakukan pemeriksaan, untuk mengetahui dimana narkoba itu disembunyikan,” terang Djoko.
Selain itu, kata Djoko, dalam sekali masuk ke Palu, tersangka AL membawa narkoba sebanyak 150 gram.
Menurutnya, harga di Malaysia jika dibandingkan Indonesia cukup menggiurkan keuntungannya.
Untuk menguatkan pemeriksaan kata Djoko, Senin (25/9), tim BNN Sulteng bersama pihak Lapas Palu menjemput ZK untuk dibawa ke kantor BNN Sulteng.
“Untuk yang kami amankan sekarang, sekitar 32 gram, dapat menyelamatkan pengguna narkoba sebanyak 160 orang dalam sehari pemakaian,” kata Djoko.

AL bukan orang Malaysia pertama yang mensuplai narkoba ke Indonesia. Belum lama ini, juga seorang warga negara Malaysia, Lew Keng Wah ditangkap kepolisian karena mengedarkan narkoba.

Menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafi Amar, Lew Keng Wah ditembak karena berusaha melawan petugas.

Lew mencoba merebut senjata petugas dan berupaya kabur di tengah perjalanan saat petugas membawanya, tepatnya di Jalan By Pass, Jakarta Timur.

Menurut Boy Rafli Amar, Lew Keng Wah mengendalikan peredaran narkoba Malaysia-Indonesia dengan melibatkan narapidana di sejumlah lembaga pemasyarakatan di Indonesia, seperti Lapas Karawang, Salemba, hingga Gunung Sindur.

“Awalnya dia mengendalikan narkoba dari Malaysia ke Indonesia, bekerjasama dengan napi jaringan Aceh di LP Karawang, Jawa Barat,” kata Boy.

Mantan Kapolda Banten ini menuturkan, kelompok mereka menamakan diri sebagai kelompok Pak Ci (kelompok Aceh). Kelompok ini tersebar di beberapa lapas, salah satunya Lapas Karawang.

“Kelompok Pak Ci ini ada di beberapa Lapas di Indonesia,” kata dia.

“Dia ini DPO (masuk daftar pencarian orang) kami, karena dia punya peran besar sebagai pengendali narkoba dari Malaysia ke Indonesia,” ucap Boy.

BNN mencatat, sindikat Malaysia merupakan pemasok narkoba terbesar di Indonesia. Hal itu dilihat dari tujuh negara yang sindikat-sindikatnya menjadi pemasok narkoba ke Indonesia. Diantaranya Lagos, Iran, India, Pakistan, Malaysia, dan negara-negara di Afrika.

“Berdasarkan data tahun 2012 sindikat Malaysia merupakan pemain yang banyak ke Indonesia,” kata Humas BNN, Sumirat di Gedung BNN, beberapa waktu lalu.

Sumirat menjelaskan, jika melihat daftar perjalanannya, para sindikat itu bisa saja masuk ke beberapa daerah di Indonesia. Termasuk Jakarta.

Caranya mereka masuk dengan modus perjalanan yang paling sering digunakan adalah dengan mengubah rute penerbangan dari internasional ke domestik. Mengingat, pemeriksaan di terminal kedatangan domestik di setiap bandara di Indonesia tidak seketat pemeriksaan di terminal kedatangan internasional.

“Mereka biasanya mengubah rute penerbangan dari internasional ke domestik,” katanya.MAN/ANT

Harian Mercusuar

View all posts