PALU, MERCUSUAR – Ketua Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Sulteng, Ahmad M Ali bersikukuh dengan mengatakan Forki hanya mendapat dua kali bantuan dari KONI Sulteng, sebesar Rp146 juta.

Bantuan lainnya yang mencapai Rp388 juta dari KONI, menurut Ahmad Ali tidak diketahuinya, karena itu diberikan jauh sebelumnya dirinya menjabat sebagai Ketua Forki Sulteng. Menurut Ahmad Ali, ia terpilih menjadi Ketua Forki terhitung 28 Agustus 2015.

Selama menjabat sampai sekarang, ia mengaku hanya dua kali mendapat dana bantuan dari KONI. Pertama kata Ahmad, sebesar Rp50 juta untuk tiket Pra PON, kemudian Rp96 juta guna perlengkapan atlet di PON.

“Jadi kalau ada bantuan sebelum saya Ketua Forki, itu saya tidak tahu. Semenjak Ketua Forki memang hanya dua kali bantuan yang diberikan. Selebihnya, kami menggunakan dana pribadi. Kalau ada bantuan sebelumnya, itu diluar tanggungjawab kami,” jelas Ahmad Ali sembari menambahkan jika dua kali bantuan dari KONI tersebut pertanggungjawabannya jelas dan siap diberikan ke KONI jika memang perlu.

Ahmad Ali juga menceritakan perjuangan Forki hingga bisa melahirkan atlet berprestasi. Ia menuturkan, selama membimbing atlet karate hingga berprestasi di PON, Forki sudah berusaha maksimal. Ia sampai merogoh kocek pribadi untuk keperluan atlet dan Forki hingga mencapai Rp1 Miliar lebih.

“Untuk mendapatkan perak di PON, itu bukan kebetulan. Ada kerja keras disana,” bebernya.

Ahmad Ali membeberkan, Forki sejak dipimpinnya begitu aktif mengikuti pertandingan nasional dan internasional, seperti kejuaraan Asia, Piala Kasad hingga beberapa iven lainnya.  Hal itu dilakukan demi menambah jam terbang atlet. Pasalnya kata Ahmad, atlet yang dimiliki Forki adalah atlet lokal yang sebelumnya tidak dikenal.

“Semuanya kami mulai dari nol. Berbeda dengan Binaraga yang memang atletnya juara dunia dan silat yang atletnya binaan pelatnas,” ujarnya.

Medali perak yang disumbangkan cabor karate untuk Sulteng, menurut Ahmad Ali seharusnya menjadi kebanggaan KONI, mengingat ini prestasi pertama dari karate. Namun sayang, lanjut Ahmad, atlet bersama official justru mendapat celaan karena dicurigai bermain mata dengan lawan.

“Itu benar-benar menyakiti hati kami. Apalagi saat Ketua KONI mengatakan bahwa kami harusnya dapat emas, namun hanya mendapat perak karena kecurigaan bermain mata dengan pihak lawan. Bagi kami, ini sungguh menistakan dunia karate,” katanya.

Ahmad juga menyayangkan sikap Ketua KONI yang terkesan kurang memperhatikan atlet saat PON. Ia mengaku, selama cabor karate berjuang di PON Jabar, Ketua KONI tidak pernah datang memberikan dukungan.

Terlepas dari itu, Ahmad Ali meminta Ketua KONI Sulteng untuk membeberkan berapa sebenarnya anggaran yang diberikan pemerintah untuk kepentingan PON tahun ini beserta penggunaannya. Menurut Ahmad, ini perlu dilakukan agar tidak terjadi fitnah.

“Jujur kami dari Forki belum tahu berapa sebenarnya anggaran KONI untuk PON. Sebaiknya itu dibuka ke publik biar semua terang-benderang,” tantang Ahmad.

Ahmad yang juga Ketua DPW Partai NasDem Sulteng, sudah memerintahkan kepada anggota DPRD Sulteng dari fraksi NasDem agar mengawal serius anggaran yang ada di KONI termasuk untuk alokasi anggaran tahun berikutnya.

Selain anggaran, Ahmad Ali juga menyoroti KONI dalam hal pembinaan dan perhatian kepada atlet. Dikatakan, ada beberapa atlet Sulteng beprestasi kemudian berpindah ke provinsi lain. Ia mencontohkan atlet DKI yang memperoleh lima medali emas di PON Jabar yang ternyata adalah putra asli Sulteng. Belum lagi atlet lompat jauh Noval, yang berpindah ke DKI padahal pernah menyumbangkan emas bagi Sulteng saat PON di Riau.

“Saya juga marah, saat melihat kelakuan atlet yang suka pindah ini. Tapi setelah tahu masalah yang terjadi di internal, justru saya menilai wajar dengan kepindahan mereka itu. Saya pikir KONI lebih tahu itu dan kedepan semua ini harus dibenahi secara menyeluruh,” tegasnya.

Sebelumnya, Ketua KONI Sulteng Anwar Ponulele membeberkan sejumlah data yang merinci jumlah bantuan KONI ke Forki dengan capaian Rp388 juta lebih. Kata Anwar, Pengprov Forki kurun waktu dua tahun ini, merupakan cabang olahraga yang terbanyak menerima bantuan dari KONI. Bantuan itu kata dia, diberikan bertahap berdasarkan kebutuhan atlet.

Contohnya, bantuan untuk training centre (TC) atlet berprestasi karate dalam persiapan Pra PON XIX 2015 di Medan. Ada juga pengadaan perlengkapan latihan dalam rangka puslatda hingga bantuan KONI kepada beberapa perguruan karate yang masuk dalam naungan Forki.

Untuk tudingan atau kecurigaan terjadi main mata sehingga karate Sulteng hanya mendapat perak, menurut Anwar telah terjadi salah paham. Ia menjelaskan, imbauan agar atlet dan official tidak main mata dengan lawan, sudah dipaparkan KONI saat akan melepas atlet ke PON. Imbauan itu dilakukan bukan tanpa alasan.

“Kami sudah punya pengalaman tidak enak saat PON remaja sebelumnya. Dimana ada kecurigaan besar main mata itu terjadi. Karena kami memang melihat langsung kondisi di lapangan. Itulah kemudian kita mengimbau kembali agar tidak terjadi di PON Jabar,” terangnya.

Soal ketidakhadirannya saat atlet karate bertanding di PON, Anwar juga mengkarifikasi. Menurutnya, tidak semua pertandingan dihadiri karena dirinya juga harus mengawal cabor lain.

“Tapi walau saya tidak ada, disitu ada perwakilan KONI yang hadir, karena sebelumnya kami sudah bentuk tim yang tugasnya bergantian mengawal tiap cabor,” tandasnya. FIT

Alfrits Semen

View all posts

Latest videos