DONGGALA, MERCUSUAR – Parade karya tari daerah Sulteng yang berlangsung di Taman Budaya Palu, Sabtu malam (21/5/2017) diikuti dari kabupaten / kota se-Sulteng dimana salah satunya dari Kabupaten Donggala yang menampilkan tari adat To Niasa.

To Niasa adalah upacara adat bagi perempuan pada saat beranjak remaja. Upacara ini bertujuan agar terhindar dari hal-hal buruk yang menimpa serta menjadi media tolak bala.

Ide garapan tari oleh Zulkifli Marjanu dan penanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala ini, menggambarkan secara utuh proses dan tahapan adat melalui gerak serta simbil-simbol pada upacara adat To Niasa.

Untuk menjaga keutuhan serta nilai yang terkandung dalam upacara adat To Niasa ini, maka gerak tari yang ditata oleh Ilham SP dan nyanyian serta bunyi (musik) yang ditata, Akbar Mbasimbasi berumber pada upacara adat To Niasa.

Tari yang dibawakan oleh Sanggar Seni Gonenggati Donggala ini, berlatar belakang pada kasta atau derajat sosial tertentu pada masyarakat suku Kaili, khususnya di Kelurahan Ganti Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala (Sub etnis nde’pu), dimana setiap perempuan ketika memasuki jenjang usia remaja (baliq) dilakukan ritual adat Niasa. Perempuan yang akan mengikuti prosesi upacara adat ini disebut To Niasa.

“Adat Niasa ini bertujuan agar dalam kehidupannya menjaga nama baik keluarga, sekaligus sebagai media tolak bala agar terhindar dari musibah atau hal-hal jahat yang akan menimpa mereka,” kata Zulkfili Marjanu.

Adat To Niasa ini, kata Zul diungkap oleh pemangku adat tentang upacara adat To Niasa agar diberikan kemudahan serta kekuatan dalam menjalani kehidupan di bumi ini.

Menurut Zulkifli, adapun tahapan dalam pelaksanaan adat To Niasa yang bersumber dari Pue Musa Lamarauna (74 tahun) ini, antara lain To Niasa harus menutup seluruh tubuh mereka, kecuali mata dan bagian kaki sebatas mata kaki serta tidak boleh dilihat oleh laki-laki.

Lalu, To Niasa dikurung dalam kurungan yang terbuat dari kayu atau bambu selama satu hari satu malam. Hal ini mencegah agar dirinya tetap terlindungi dari godaan luar yang nantinya akan membuat hidupnya susah atau sengsara.

Pada bagian sisi sisi kurungan diikatkan kain mbesa, dan saat gadis tersebut tidur dalam kurungan menggunakan pisang satu sisir sebagai pengganti bantal. Hal ini bermakna agar dalam hidupnya, rasa persaudaraan sesama saudara makin rapat dan selalu bersama.

Keeseokan harinya, kurungan tersebut dibuka, dan gadis (To Niasa) dibawa menuju ke tempat permandian yang telah ditentukan. Untuk menuju tempat mereka dimandikan, kaki gadis tersebut tidak boleh menyentuh tanah, sehingga mereka harus digendong. To Niasa boleh berjalan menuju tempat mereka dimandikan dengan syarat harus berjalan diatas daun pisang.

Kemudian To Niasa dibawah kembali ke rumah dengan cara digendong, namun sebelum masuk ke rumah, terlebih dahulu mengelilingi rumah sebanyak tiga kali sebagai simbol penghormatan kepada bumi. HID

Harian Mercusuar

View all posts