MORUT, MERCUSUAR – 76 warga negara asing (WNA) asal Tiongkok memasuki wilayah Kabupaten Morowali Utara (Morut) pada Agustus 2017. Mereka memasuki Morut dengan tujuan sebagai Tenaga Kerja Asing (TKA).

Majunya industri pertambangan nikel di bumi Tepo Asa Aroa menjadi magnet bagi dunia luar berpatisipasi dalam mengelola mineral nikel yang terdapat di wilayah timur Sulteng. Seiring masuknya investasi dari Tiongkok, pemilik modal ini juga memboyong tenaga kerja dari negaranya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Morut, Jamaluddin Sudin, mengatakan masuknya tenaga baru dari luar tersebut untuk menggantikan TKA yang telah habis masa kontraknya di PT Central Omega Resuorces Industrial Indonesia (CORII) yang berlokasi di Desa Ganda-Ganda, Kecamatan Petasia. “Baru masuk satu bulan yang lalu di PT CORII, yang dipasok oleh subkontraktor” ujarnya, Rabu (9/10/2017).

Ia menyebutkan, 76 orang TKA itu untuk meneruskan pekerjaan yang ditinggalkan puluhan TKA sebelumnya. “Sebelum puasa ada yang kembali ke Tiongkok,” paparnya.

Berdasarkan data Disnakertrans, jumlah TKA yang berpartisipasi di tambang PT CORII sebanyak 163 orang yang kesemuanya berasal dari Tiongkok. Mereka terlibat dalam pengelolaan biji nikel sebagai tenaga teknis.

“TKA ini berdasarkan pantauan kami, setiap orang itu bekerja tidak sampai satu tahun. Hanya beberapa bulan saja kemudian diganti dengan yang baru. Ada yang bekerja hanya 3 bulan, kemudian kembali lagi kenegara asalnya. Minimal mereka berkerja 3 bulan, maksimal 9 bulan,” jelasnya.

Diketahui nilai investasi smelter nikel PT CORII sebesar Rp1.260.000.000.000. Pendirian industri nikel PT CORII berdasarkan izin lokasi 180.45/KEP.B.MU/0284/XII2016, izin gangguan 504/SK.257/KP2TPM/2015 dan izin lingkungan 660/337/BIHD-6.ST/2014 dengan luas lahan 471,78 hektar. Kebutuhan listrik sebesar 13,8 MW, tenaga kerja 935 orang dengan rincian TKI 429 orang dan TKA 163 orang. Dengan target produksi nikel pic iron 100.000 ton per tahun. VAN

Harian Mercusuar

View all posts

Latest videos