POSO, MERCUSUAR –  Humas  Polda  Sulteng   AKBP  Hari Suprapto  mengatakan    pasukan  yang  ditugaskan  untuk pemulihan sekaligus  pengentasan kelompok  Mujahidin  Indonesia Timur (MIT)  di  Poso    tidak kurang dari  3000 personil. Jumlah tersebut  adalah satuan tugas  dari Tentara  Nasional  Indonesia  (TNI) dan  Kepolisian Republik Indonesia (Polri). “Adapun wilayah  tugasnya  masih  berkonsentrasi   di wilayah Poso  dan juga  beberapa  daerah  yang diduga  menjadi  tempat  pelintasan  kelompok sipil bersenjata  dari  MIT,” ujar  Hari Suprapto  kepada  Mercusuar, Selasa (26/9/2017).

Langkah  lain yang sedang dipersiapkan  adalah  pergantian  sekitar  600 pasukan  yang sudah bertugas di Poso . Mereka  akan dipulangkan  ke markas  masing-masing. Tetapi  pemulangan  pasukan tersebut  langsung  diganti  dengan    personil  baru dengan jumlah yang sama.  “Dalam rancangan  kerja  kami,  pasukan   akan tiba  sekitar  tanggal 28  bulan ini.  Esok  harinya,   seluruh pasukan  tersebut  langsung  bergeser  ke  Kabupaten Poso,” kata Hari  menambahkan.

Masa  tugas  Tim gabungan TNI/Polri  dengan sandi  utama  Tinombala IV ini  telah  mengalami beberapa  kali  perpanjangan   waktu  operasi. Yang terakhir   sampai  bulan Desember tahun ini. “Sesuai  petunjuk pusat, konsentrasi   pasukan  akan  diperpanjang  sampai  bulan Desember tahun ini. Setelah  itu  barulah  tim akan  membuat  analisa  tentang  langkah selanjutnya,” tuturnya.

Dikatakan, belum  dipulangkannya  ribuan  pasukan yang  mengawal daerah Poso  dikarenakan  masih  melakukan pengejaran terhadap  tujuh orang  kelompok  bersenjata tersebut.  Kelompok  bersenjata ini  diduga  kuat  masih  bergelirya    di  hutan kabupaten Poso dan Parigi Moutong.  Hutan  Sulawesi  Tengah  yang sangat  luas dan masih  “perawan”  membuat   tujuh  orang  dimaksud,   sangat  leluasa  berpindah-pindah tempat.

Diketahui, pengejaran  terhadap  kelompok  sipil  bersenjata  ini  telah berlangsung lama,  menyita   waktu,  dan  menimbulkan korban  jiwa  di  kedua  belah pihak, baik aparat  maupun  kelompok  radikal . Tewasnya  tokoh sekaligus otak utama  seperti  Daeng Koro  dan  Santoso,   ternyata  tidak  menciutkan  nyali  mereka  untuk bergerilya.  Untuk saat ini,  Ali Kalora  adalah  yang disebut-sebut  sebagai  pimpinan kelompok ini. NAN

Latest videos